Showing posts with label Budi Daya. Show all posts
Showing posts with label Budi Daya. Show all posts

Sunday, June 30, 2013

MELIHAT BUDIDAYA CABE MERAH DI DAERAH JAMBI


Budidaya Cabe Merah



Budidaya Cebe Merah
Cabe merah salah satu jenis tanaman yang memiliki daya adaptasi tinggi, sehingga lokasi produksinya menyebar mulai dari daerah dataran rendah sampai dataran tinggi. Posisi cabe merah dalam pola konsumsi makanan, meyebabkan komoditas ini dikategorikan sebagai tanaman sayuran.

Sebagian besar hasil produksi yang ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar merupakan salah satu indikator bahwa cabe merah dapat dikategorikan sebagai komoditas komersial. Ditinjau dari karakteristik pengembangan produksi, cabe merah dapat di-konsumsi dalam bentuk segar maupun olahan. Dengan demikian, pengusahaan komoditas cabe merah ini memiliki peluang pasar yang cukup luas, yaitu untuk memenuhi permintaan konsumsi rumah tangga dan industri pengolahan.

Pengamatan umum terhadap perkembangan usahatani cabe merah menunjukan bahwa potensi ekonomi yang dimungkinkan oleh daya adaptasi serta nilai ekonomi tinggi dari komoditas ini, belum tergali secara optimal. Dikaitkan dengan aspek pe-ngembangan belum tampak inisiatif menyeluruh untuk menata sisi produksi dan pemasaran, sehingga sering sekali mengakibatkan timbulnya gejolak penawaran dan permintaan yang merugikan produsen maupun konsumen. Daya adaptasi dan serta nilai ekonomi tinggi, secara rasional memberikan insentif bagi banyak petani untuk mengusahakan komoditas cabe merah.

Perkembangan areal tanam cabe merah di Kabupaten Muaro Jambi sebagai salah satu komoditas sayuran selalu mengalami fluktuasi, utamanya disebabkan oleh tidak terjaminnya harga pasar yang dipengaruhi oleh adanya pasokan cabe merah dari luar daerah yang memiliki produktivitas tinggi.

Sejalan dengan adanya peningkatan jumlah penduduk, permintaan cabe merah baik dalam bentuk segar maupun hasil olahan menunjukan perkembangan konsumsi per kapita yang meningkat. Rata-rata konsumsi untuk rumah tangga 5,94 gram per kapita per hari (2,2 kilo gram per kapita per tahun) (Witono Adiyoga, 1996)

Wednesday, May 22, 2013

CARA BUDIDAYA CUMI-CUMI

CARA BUDIDAYA CUMI-CUMI

Kabar gembira bagi para nelayan yang biasa menangkap cumi-cumi di laut. Kini, tak perlu lagi mengalami masa paceklik sejak ditemukannya teknik membudidayakan cumi-cumi.

Indonesia memang sudah terkenal dengan basil lautnya dan merupakan salah satu produsen komoditas perikanan yang memasok produksinya ke berbagai mancanegara. Salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang juga merupakan produk ekspor andalan negara kita adalah cumi-cumi. Itu ditandai dengan nilai ekspor binatang laut yang dikelompokkan ke dalam hewan yang memiliki kaki di kepala ini (keluarga chephalopoda) selama lima tahun terakhir terus meningkat.

Selama ini Jepang, Amerika dan negara-negara Eropa merupakan negara tujuan utama ekspor biota laut yang memiliki nama latin lepiotenhis lessoniana. Di banyak negara cumi-cumi selain dimanfaatkan untuk bahan baku berbagai jenis makanan, juga digunakan sebagai umpan untuk memancing ikan di laut.

Eskpor cumi-cumi yang pada tahun 2001 mencapai 13 ribu ton lebib (senilai US$ 22 ribu) nilai produksi ekspornya menunjukkan peningkatan yang cukup tajam pada tabun 2005. Tahun lalu jumlahnya berlipat menjadi 25 ribu ton lebih (senilai lebih dari US$ 42 ribu). Peningkatan nilai ekspor ini ternyata masih jauh lebih kecil dari kebutuhan cumi-cumi di pasar dunia.

Di Amerika tahun lalu saja membutuhkan 640 ribu ton cumi-cumi. Di saat yang sama Jepang membutuhkan 580 ribu ton, sementara produksi dalam negerinya hanya mampu menghasilkan sekitar 200 ribu ton saja. Sebagai informasi barga cumi-cumi di negara sakura ini kini mencapai US$ 2,5 per kilogram. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa peluang ekspor cumi-cumi masih terbuka lebar dan cukup menjanjikan.

Meski hasil ekspor cumi-cumi memperlibatkan tren yang terus membaik setiap tahunnya, bukan berarti selama ini tidak ada kendala yang dihadapi oleh para nelayan dalam berburu cumi-cumi. Hampir seluruh hasil ekspor cumi-cumi Indonesia saat ini masih mengandalkan hasil tangkap dari laut. Artinya pasokan nelayan sangat tergantung dari musim. Seperti misalnya di selat Alas (selat yang menghubungkan antara pulau Lombok dan sumbawa) pada periode Oktober – April merupakan masa panen cumi-cumi, tiap bulannya tangkapan para nelayan rata-rata bisa mencapai lebih dari 100 ton. Sebaliknya selama April – September merupakan saat paceklik cumi-cumi, pada saat paceklik para nelayan ini tentu saja pendapatannya akan menurun bahkan bisa saja terjadi sama sekali tidak ada pemasukan dari basil tangkap cumi-cumi ini.

Selain itu, keberadaan cumi-cumi ini juga sangat tergantung dari kondisi ekosistem terumbu karang. Terumbu karang bagi cumi-cumi merupakan tempat untuk bertelur dan mencari makanan. Sayangnya kondisi terumbu karang di perairan Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Departemen Kelautan dan Perikanan total luas terumbu karang Indonesia mencapai 60 ribu kilometer persegi, sementara yang kondisinya dianggap masih baik kurang dari 6%. Sisanya yang 94 % tentu saja sangat buruk keadaannya. Melihat fenomena ini maka bisa diprediksikan bahwa dalam beberapa tahun lagi populasi cumi-cumi akan mulai berkurang. Hal ini tentu saja juga akan mengakibatkan penurunan produksi ekspor cumi-cumi.

Populasi cumi-cumi semakin hari kian terancam keberadaanya, mengingat kini makin meningkat intensitas pencemaran dan kerusakan lingkungan di laut. Hal ini tentu saja akan berpengaruh terhadap ekosistem laut terutama cumi-cumi yang tergolong hewan yang amat peka terhadap pencemaran. Sedikit saja terjadi perbedaan kualitas air akanmenghindar dari kawasan perairan tersebut.

Melihat ancaman yang serius dari keberadaan cumi-cumi ini, Mulyono S. Baskoro, Peneliti dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor, melakukan penelitian untuk mengembangkan teknik budidaya cumi-cumi. Baskoro pun kini mulai menikmati hasil kerja kerasnya selama ini dalam menemukan teknik membudidayakan cumi-cumi.

Dalam memulai penelitian budidaya cumi-cumi ini, Baskoro memang dihadang berbagai kendala. Diantaranya disebabkan oleh perilaku hewan itu sendiri yaitu belum mau dikawin paksa. Maksudnya hewan ini tetap saja hanya mau bertelur di habitat aslinya. Untuk mengatasi hal ini, Baskoro menemukan sebuah cara yang cukup cerdik, yakni dengan menyediakan tempat khusus untuk induk cumi-cumi bertelur yang disebut atraktor. Atraktor ini dipasang di habitat aslinya. Setelah sang induk bertelur baru telur-telur tersebut dipindahkan ke keramba jaring apung untuk ditetaskan. Lewat cara ini, Baskoro tidak memaksakan induk cumi-cumi untuk bertelur di luar habitatnya.

Atraktor ini sebenarnya merupakan alat sejenis rumpon dengan desain menyerupai bentuk seperti kelopak bunga. Berdiameter 120 cm dan tinggi 35 cm. Untuk membuat alat ini sangatlah mudah. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk membuat alat ini pun gampang diperoleh di mana saja. Seperti kawat, tambang dan lembaran plastik hitam yang berfungsi untuk menutup bagian atas rumpon ini. “Untuk membuat satu unitatraktor hanya membutuhkan biaya Rp 300 ribu,” ujar Baskoro.

Pakannya Tak Terlalu Sulit
Alat ini memang dibuat sedemikian rupa agar cumi-cumi betah berada di dalam sarang buatan ini. Di dalam atraktor ini ditempatkan serabut-serabut dari tali agar mirip tumbuhan laut, tempat cumi-cumi biasa meletakkan telurnya. Di bagian atas atraktor ditutup dengan plastik hitam agar kondisi di dalam rumpon ini gelap tak tersentuh cahaya matahari. Ini sengaja dilakukan sebab biota laut yang satu ini memang tergolong hewan yang aktif di saat malam hari.

Meskipun terlihat sederhana namun untuk penelitian membuat sarang bagi induk cumi-cumi ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Baskoro telah melakukan penelitian penggunaan atraktor ini sejak empat tahun yang lalu. Penelitian untuk budidaya cumi-cumi dan penemuan atraktor ini sejatinya memang dilakukan Baskoro untuk menolong para nelayan cumi-cumi. “Ide awal membuat alat ini adalah agar para nelayan tidak kekurangan pasokan cumi-cumi di saat musim paceklik,” ujarnya.

Untuk mempergunakan alat ini, Baskoro menganjurkan agar seyogyanya diletakkan di dasar perairan – sekitar 5 – 7 meter dari permukaan laut – yang memang telah di ketahui menjadi habitat cumi-cumi. Yakni di dasar perairan sekitar terumbu karang dengan kondisi perairan yang jernih dan arus yang tidak terlalu kuat. Biasanya bila melihat tempat yang “nyaman dan asyik” cumi-cumi dewasa akan segera kawin di dalam sarang buatan ini. Idealnya penempatan atraktor ini dilakukan pada saat musim panen cumi-cumi.

Setelah satu bulan diletakkan baru terlihat ada telur cumi-cumi yang diletakkan induknya di alat tersebut. Kemudian selanjutnya telur-telur itu dipindahkan ke lokasi jaring apung untuk ditetaskan. Lokasi jaring apung ini sebaiknya jangan terlalu jauh dengan lokasi penempatan atraktor. Hal ini, selain tidak efisien juga akan menambah resiko rusaknya telur saat dipindahkan. Sekitar dua minggu setelah dipindahkan baru telur-telur itu akan menetas. Empat bulan kemudian setelah di pelihara di jaring apung dengan padat penebaran sekitar 50 ekor per meter3 cumi-cumi ini siap dipanen.

Seekor induk cumi-cumi rata-rata mampu menghasilkan sekitar 500 butir telur. Pembudidaya cumi-cumi seyogyanya memiliki 10 unit atraktor. Artinya saat masa panen cumi-cumi tiap bulannya mampu mengumpulkan telur cumi sebanyak 5000 buah. “Lewat teknik ini tingkat keberhasilan-nya hingga panen mencapai 85%,” kata Baskoro. Artinya saat panen dari 5000 telur itu akan menghasilkan 4250 ekor cumi-cumi dengan berat sekitar 425 kg. Di tingkat petani harga cumi-cumi saat ini mencapai sekitar Rp 22 ribu per kilogramnya. Jadi dengan produksi sebanyak itu pembudidaya akan mendapatkan pendapatan Rp 9,3 juta.

Mengenai pakan, cumi-cumi tergolong mudah dalam pemberian pakan. Hewan ini tergolong hewan pemakan daging (karnivora) oleh sebab itu semua biota laut yang bisa masuk mulutnya akan dimakan. Seperti kerang, ikan dan hewan laut lainnya. Untuk pemeliharaan juga tidak terlalu sulit. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai ada pakan yang tersisa di jaring apung. Ini akan mengundang hewan laut lainnya (ikan atau kepiting) untuk mengambil sisa pakan tersebut di dalam jaring. Jika ini terjadi ada kemungkinan jaring akan putus, akibatnya cumi-cumi bisa kabur ke laut bebas.

Satu lagi yang harus menjadi perhatian serius bagi pembudidaya cumi-cumi adalah soal pemilihan lokasi jaring apung, lokasinya harus jauh dari kegiatan industri dan keramaian. Sebab sedikit saja terjadi pencemaran di perairan tersebut maka sudah dapat dipastikan seluruh cumi-cumi peliharaannya akan mati sia-sia. Hal ini tentu saja akan sangat merugikan pembudidaya itu sendiri.

Friday, April 19, 2013

CARA BUDIDAYA DAUN BAWANG (MUNCANG)

Muncang banyak ditanaman dan dibudidayakan dengan pola tanam tumpang sari. Sistem tumpang sari yang sekarang banyak ditanam adalah dengan tanaman sawi, cabe, wortel dan sayuran daun lain. Sebenarnya budi daya tanaman daun bawang relatif sangat mudah. yang lebih menggembirakan adalah hasil dari panennya sangat mudah untuk dipasarkan dan bahkan para tengkulak akan datang untuk survey dan bahkan akan langsung bayar di tempat untuk melakukan pembayaran secara tunai, dengan harga jual yang relatif stabil dan menguntungkan. Berminat untuk mencoba, baca dulu ulasan berikut ini !

Tips untuk memulai usaha

1. Pilihlah lahan yang sesuai untuk penanaman bawang daun. Disini tanah yang paling cocok untuk tanaman daun bawang adalah yang banyak mengandung humus. Sebaiknya dilakukan 15-30 hari sebelum tanam.

2. Selanjutnya, buatlah persemaian. Caranya, olah tanah, lalu tanam biji atau anak tunas sebagai bibit. Untuk 1 ha lahan, dibutuhkan bibit (tunas) sebanyak 200.000 anakan atau 1,5-2 kg biji.

Disarankan untuk hasil yang terbaik hendaknya lebih baik menggunakan bibit yang dari tunas atau anakan bukan dari persemaian, karena disamping waktunya lama, belum tentu hasil dari persemaiana tadi akan mengahsilkan bibit yang berkualitas.

3. Siapkan lahan untuk penanaman. Caranya, cangkul tanah sedalam 30-40 cm, kemudian berikan pupuk kandang sebanyak 10-15 ton/ha. Buat bedengan selebar 0,6-1 m. Buat parit dengan lebar 20-30 cm di antara bedengan. Pengapuran dilakukan jika tanah ber-pH < 6.5 dengan 1-2 ton/ha kapur dolomit dicampur merata dengan tanah pada kedalaman 30 cm. 

4. Buat lubang tanam dengan jarak 20 x 20 cm sedalam 10 cm.

5. Pindahkan bibit ke lahan penanaman setelah berumur 2 bulan (tingginya 10-15 cm).

6. Waktu tanam terbaik awal musim hujan (Oktober) atau awal kemarau (Maret). Kendala Budidaya Bawang Daun Jenis Tanaman daun bawang ini mudah terserang hama dan penyakit, terutama pada musim hujan.



Berikut beberapa jenis hama dan penyakit yang umum menyerang tanaman bawang daun ini, yakni :

- Ulat bawang/ulat grayak (Spodoptera exiqua Hbn.) Pengendalian: cara pergiliran tanaman dengan tanaman bukan Liliaceae dan pengendalian kimia dengan Hostathion 40 EC, Orthene 75 SP, Cascade 50 EC atau dengan perangkap ngengat. 

- Busuk daun/embun tepung (Peronospora destructor (Berk.) Casp) Pengendalian: menggunakan benih/bibit sehat, rotasi tanaman dengan tanaman bukan Liliaceae dan fungisida Dithane M-45, Antracol 70 WP atau Daconil 75 SP.

- Thrips/kutu loncat/kemeri (Thrips tabbaci Lind.) Pengendalian: pergiliran tanaman bukan Liliaceae; menanam secara serempak; memasang perangkap serangga berupa kertas/dengan insektisida Mesurol 50 WP. 

- Busuk leher batang (Bortrytis allii Munn.) Gejala: leher batang menjadi lunak, berwarna kelabu, bentuknya menjadi bengkok dan busuk. Pengendalian: pergiliran tanaman bukan Liliacea, penggunaan benih/bibit sehat, meningkatkan kebersihan kebun dan tanaman dan fungisida Dithane M-45 atau Daconil 75 WP. 

Strategi Budidaya Bawang Daun


- Pastikan lahan sudah diolah sebelum ditanami sehingga unsur hara yang diperlukan tanaman bawang daun tercukupi.
- Lakukan upaya pengendalian penyakit sedini mungkin, antara lain dapat dilakukan dengan cara menyemprotkan pestisida sesuai anjuran.
- Setelah tanaman bawang daun berumur 3-4 minggu, berikan pupuk urea sebanyak 3 g untuk setiap tanaman. 
- Lakukan panen bawang daun setelah berumur 2,5 bulan sejak ditanam atau sekitar 4 bulan dari biji disemai. Tanaman yang baik dapat menghasilkan 10 ton/ha bawang daun.
- Sebelum kanopi tanaman utama saling menutup, bawang daun harus sudah dipanen. 
- Gali informasi dan pengetahuan mengenai budidaya bawang daun melalui berbagai media seperti buku, majalah, pertemuan-pertemuan yang berkaitan dengan kegiatan pertanian dan perkebunan dsb. 

sumber dari : www.binaukm.com

Thursday, April 11, 2013

TIPS BAGAIMANA BUDIDAYA KROTO

Kroto adalah telur rangrang berwarna putih memanjang berujud seperti butir nasi yang dijadikan makanan burung berkicau paling dicari oleh penggemar burung kicauan. Namun nahasnya, semakin hari jumplah pasokan kroto dipasar mengalami kelangkaan yang membuat harga satu kilogramnya bisa mencapai Rp 100.000. Karena keadaan tersebut, situs tips wisata murah membaca adanya peluang usaha yang bisa dimanfaatkan, Dan ternyata memang benar, karena dibeberapa tempat sudah ada orang yang berternak kroto dengan cara mudah tapi penghasilan melimpah. Adapun cara yang mereka pakai seperti kami tuturkan dibawah ini.

Cari sarang ratu semut rangrang ( bahasa jawane semut krangkang) potong cabang tempat semut bersarang Taruh di toples atau ember atau pada batang pohon baru yang dikehendaki Biarkan dia merasa nyaman ditempat barunya Taruhlah yang berbau manis atau bangkai serangga ditempat yang baru tersebut. Bisa juga bekas tulang ayam yang habis kita makan. Atau binatang reptil seperti cacing dan seterusnya.

Sekedar Informasi tambahan tentang budidaya kroto
Ratu semut berukuran paling besar dan biasanya bersarang di sarang pusat, yang konon menurut catatan yang dijumpai situs tips wisata murah menyatakan, jumlahnya bisa mencapai 2-6 ekor per koloni.. Selain itu ada sarang telur, dan sarang satelit yang secara rinci bisa anda baca di www krotosemut.com. Supaya pasukan semut merah itu mau bekerja dengan hasil maksimal. Servis dari peternak seperti tips diatas wajib diperhatikan. Terutama jangan lupa setiap hari memberi cairan manis disekitar tempat sarang lava

Semut merah penghasil kroto yang produktif. setiap 10 hari bisa menghasilkan hingga 1 kg kroto baru. Sekarang kalau anda pngin mendapat hasil yang melimpah, tinggal menambah sarang dengan ratu semutnya ditempat tempat lain, yang menurut anda bisa dimanfaatkan untuk ternak kroto tanpa terganggu oleh binatang ternak seperti ayam kampung misalnya, dan semua aktifitas yang bisa membuat tidak nyaman ratu semut dan koloninya. Kalau hal tersebut mampu anda kerjakan. semoga berhasil dengan cara mudah budidaya kroto ini.

Demikan artikel singkat cara mudah budidaya kroto. Semoga bermanfaat.

Monday, April 1, 2013

BUDIDAYA RUMPUT LAUT

Budidaya rumput laut merupakan salah satu komoditas dengan nilai ekonomis yang tinggi, yang mana komoditas tersebut masuk pada kategori komoditas perikanan. Budidaya ini pada umumnya dilakukan oleh nelayan atau warga pesisir pantai karena pada tahap pengembangan memerlukan kerja sama yang komplek antara unsur-unsur sub sistem.


Rumput laut merupakan salah satu jenis ganggang yang mudah ditemui di perairan Indonesia. Dalam pengembangan pertumbuhannya sangat membutuhkan sinar matahari untuk melakukan proses photosynthesa, maka dari itu rumput laut biasanya tumbuh di perairan dangkal yang masih dapat terjangkau oleh sinar matahari.

Untuk melakukan budidaya rumput laut, anda harus memperhatikan beberapa faktor teknis dan faktor non-teknis.

Faktor teknis :
1. Kelayakan lokasi pengembangan, meliputi : aman dari terjangan ombak yang besar, mudah di jangkau saat melakukan proses produksi hingga proses pemasaran hasil dan tersedianya bahan pendukung yang dibutuhkan saat pengembangan budidaya tersebut.
2. Temperatur dan sanitasi lokasi produksi, temperatur air rata-rata bekisar antara 25-30°C sedangkan untuk sanitasi air sangat bergantung pada sumber air tawar disekitar lokasi dan faktor penguapan.
3. Gerakan air atau ombak, ombak yang besar dapat merusak ekosistem ganggang sehingga akan sangat mengganggu perkembangan budidaya rumput laut tersebut.

Faktor non-teknis :
1. Pemilihan bibit, bibit yang baik merupakan langkah awal yang harus diperhatikan. Ciri-ciri bibit yang baik adalah harus muda, bersih dan segar. Bibit sebaiknya dipilih dari stek ujung tanaman yang masih muda dan unggul dari tanaman rumput laut.
2. Metode penanaman, ada 3 metode penanaman yang harus diketahui diantaranya adalah metode tali gantung, metode lepas dasar serta metode rakit apung.
3. Tahap pemeliharaan, memelihara ganggang atau rumput laut harus rutin melakukan peninjauan terhadap sarana dan prasarana budidaya.
4. Tahap pemupukan, tahapan yang satu ini harus dilakukan jika budidaya rumput laut tersebut dilakukan di tambak.
5. Tahap panen, rumput laut dapat dipanen bila sudah masuk umur 5 sampai 8 minggu setelah mencapai 800 gram per ikatan. Cara memanennya pun dapat dilakukan saat air surut maupun air pasang.