Showing posts with label Artikel Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Artikel Pertanian. Show all posts

Wednesday, July 3, 2013

Pengenalan Tanaman Buah dan Sayuran Merambat

Sebelum kita berbicara tentang Tanaman Buah dan Sayuran Merambat, lebih baik mengetahui definisi, pengertian pada tanaman sayuran dan buah tersebut sebagai berikut :

1. Tanaman Sayuran Semusim

Tanaman Sayuran semusim adalah tanaman sumber vitamin,mineral dan lain-lain yang dikonsumsi dari bagian tanaman yang berupa daun, bunga, buah dan umbinya yang berumur kurang dari satu tahun. Tidak dibedakan antara tanaman sayuran yang ditanam didaerah dataran tinggi dan dataran rendah, begitu juga yang ditana di lahan sawah dan lahan bukan sawah.

2. Tanaman Buah-buahan Semusim
Tanaman Buah-buahan Semusim adalah tanaman sumber vitamin,mineral dan lain - lain yang dikonsumsi dari bagian tanaman berupa buah, berumur kurang dari satu tahun, dapat berbentuk eumpun, menjalar, dan berbatang lunak. Tanaman buah -buahan semusim terdiri dari melon,semangka,blewah dan stroberi.

1. Sekarang mari kita mengenal tanaman buah yang merambat :



a. Melon (Cucumis melo L.) merupakan nama buah sekaligus tanaman yang menghasilkannya, yang termasuk dalam suku labu-labuan atau Cucurbitaceae. Buahnya biasanya dimakan segar sebagai buah meja atau diiris-iris sebagai campuran es buah. Bagian yang dimakan adalah daging buah (mesokarp). Teksturnya lunak, berwarna putih sampai merah, tergantung kultivarnya. Tumbuhan semusim, merambat tetapi menjalar, tidak memanjat. Daun berbentuk menjari dengan lekuk moderat sehingga seperti lingkaran bersudut. Batangnya biasanya tidak berkayu. Tumbuhan ini berumah satu dengan bunga dua tipe: bunga jantan dan hermafrodit. Bunga jantan muncul biasanya pada saat tanaman masih muda atau bila tumbuhnya kurang baik. Buah bertipe pepo. Bagian mesokarp menebal menjadi daging buah yang berair. pemuliaan diarahkan pada daging buah yang tebal, manis, serta jika mungkin, harum. Tiga yang paling populer adalah Cantalupensis (di dalamnya termasuk blewah, true European cantaloupe), Reticulatus (melon yang biasa dikenal, kulit buahnya biasanya "berjala"), dan Inodorus (melon 'Honeydew', yang bentuknya oval dengan kulit berkerut). Terdapat satu kelompok lain yang buahnya juga dimakan.

b Blewah (Cucumis melo L. Kelompok Cantalupensis) adalah tumbuhan penghasil buah yang banyak digunakan sebagai minuman penyegar di Asia Tenggara, selain timun suri dan kolang-kaling. Blewah sejenis dengan melon namun berbeda kelompok budidaya. Ia berbentuk liana, seperti juga labu dan mentimun. Blewah umumnya berbentuk bulat lonjong, dengan kulit berwarna jingga terang dengan bercak kehijauan. Di balik kulit buah yang tipis, terdapat daging buah yang relatif lembut dan bertekstur. Di bagian dalamnya terdapat rongga yang berisi biji dan serat. Blewah kaya kandungan mineral kalium dan provitamin A serta serat makanan. Kandungan gizi dalam buah ini bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, menyehatkan fungsi ginjal dan limpa, dan menurunkan tekanan darah. Blewah dapat dengan mudah ditemukan di pasar tradisional, sementara blewah yang sudah diolah sebagai campuran minuman es, bisa ditemukan di berbagai tempat keramaian, seperti pasar, sekolah,warung, dan sebagainya. 

c.Timun suri adalah tumbuhan semusim penghasil buah anggota suku labu-labuan (Cucurbitaceae). Nama lainnya betik atau barteh. Buahnya yang setengah masak biasa dijual secara musiman pada bulan puasa (Ramadan) karena daging buahnya menjadi komponen minuman penyegar untuk berbuka puasa. Meskipun demikian, timun suri bukanlah tanaman musiman karena dapat ditanam kapan saja. Timun suri mengandung kalium yang cukup tinggi sehingga sangat bermanfaat untuk menjaga kesegaran tubuh. Mentimun suri bukanlah mentimun walaupun bentuk buahnya memanjang dan menyerupai mentimun. Secara morfologi dan sitologi ia tidak sama dengan mentimun. Bentuk daun dan ukuran bijinya lebih mendekati blewah atau melon. 


d. Markisa tergolong ke dalam tanaman genus Passiflora, berasal dari daerah tropis dan sub tropis di Amerika.

Nama lain yang dikenal untuk buah ini antaranya maracujá (Portugis), maracuyá (Spanyol), Passion Fruit (Inggris), Granadilla(Amerika Selatan dan Afrika Selatan), Pasiflora (Israel), Lilikoʻi (Hawaii), dan Lạc tiên, Chanh dây atau Chanh leo (Vietnam).

Indonesia terdapat dua jenis markisa, yaitu markisa ungu (passiflora edulis) yang tumbuh di dataran tinggi, dan markisa kuning (passiflora flavicarva) yang tumbuh di dataran rendah. Beberapa daerah yang menjadi sentra produksi markisa ini antara lain Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan.

Sementara itu, ada pula varian markisa yang tumbuh di daerah Sumatera Barat yang disebut sebagai markisa manis (passiflora edulis forma flavicarva). 

2. Tanaman Sayuran Buah Merambat

a. Labu siam atau jipang (Sechium edule, bahasa Inggris: chayote) adalah tumbuhan suku labu-labuan (Cucurbitaceae) yang dapat dimakan buah dan pucuk mudanya. Tumbuhan ini merambat di tanah atau agak memanjat dan biasa dibudidayakan di pekarangan, biasanya di dekat kolam. Buah menggantung dari tangkai. Daunnya berbentuk mirip segi tiga dan permukaannya berbulu. 

Orang Indonesia mengenalnya sebagai labu siam karena tumbuhan ini didatangkan dari Thailand (Siam waktu dulu) oleh orangBelanda. Orang Sunda menamakannya lèjèt dan orang Jawa mengenalnya sebagai jipang. 



b. Buah Kundur atau Baligo merupakan keluarga labu yang lebih sering dijadikan sayur daripada bahan makanan pokok. Umumnya orang Indonesia suka menjadikan manisan. Manisan ini jika dipotong-potong kecil dan dikeringkan serta diberi pewarna makanan merah, hijau, kuning dinamakan "sukade" biasanya dijadikan hiasan kue Bolu ataupun kue-kue lainnya. Ditaburkan di atas kue sehingga kue berpampilan cantik dan mengundang selera.

Buah Kundur dilindungi dengan bedak putih, lilin berkapur. Hal ini akan menghalangi mikroorganisme dan membantu memberikan umur yang panjang dan bertahan lama. Buah Kundur Benincasa hispida berkhasiat untuk penawar racun dan batangnya berkhasiat sebagai obat sakit kulit. Untuk penawar racun dipakai + 20 gram buah segar Benincasa hispida, dicuci, diparut dan diperas. Hasi! perasan diminum sekaligus. 

Di tanam di daerah pertanian dengan 2 cara yaitu membiarkan merambat di tanah atau diberi penyangga agar buahnya lebih bersih penampilannya. Batangnya berkayu, lunak, berbulu, dan berwarna hijau. Memiliki daun tunggal, bulat, bertepi rata dengan ujung tumpul, pangkal daun membulat, dengan panjang 10-17 cm, lebar 9-15 cm, tangkai daun bulat dengan panjang 10-15 cm dan berwarna hijau. Berbunga tunggal dengan kelamin dua di ketiak daun, kelopak berbentuk corong, bercangap, halus dan berwarna hijau muda. Bunga memiliki 5 benang sari dengan panjang 2-3 cm berwarna putih. Kepala sari bunga berbentuk bulat berwarna hijau. Putik bunga berwarna putih dengan mahkota berwarna kuning dan berbuluhalus. 

Buah Kundur berbentuk bulat panjang, berdaging dengan panjang 15-20 cm berwarna hijau keputih-putihan karena tepung/bedak kapur yang dihasilkan oleh tumbuhan itu sendiri. Bijinya keras berbentuk pipih berwarna putih dengan panjang 6-7 mm, lebar 5-6 mm. Berakar tunggang yang berwarna putih kotor. Buah Kundur memiliki banyak nama Nama ilmiah : Benincasa hispida Kundur (Melayu, Riau, Bali, Sunda) Kundo (Aceh) Gundur (Batak) Kundus (Minangkabau) Serdak (Lampung) Baligo/Beligo (Jawa) Kondur (Madura) Lela (Roti Nusa Tenggara) Komelingan (Timor) Kusmanda 

c. Waluh. ( Labu kuning )
Labu Kuning (Cucurbita moschata) dikenal dengan sejumlah nama lain seperti: waluh, labu merah, labu manis, labu parang (Jawa Barat) atau pumpkin (Inggris) merupakan salah satu jenis labu-labuan yang menjadi komoditas potensial sebagai bahan sayuran. Di luar negeri buah labu besar/kuning ini menjadi sayuran bergengsi, bahkan sering dilombakan oleh kalangan penggemar sayur-mayur tingkat dunia. Namun tingkat konsumsi labu kuning di Indonesia masih sangat rendah, kurang dari 5 kg per kapita per tahun.

Tanaman labu kuning berasal dari Ambon (Indonesia). Labu kuning tergolong bahan pangan minor sehingga data statistik belum tersedia, namun di beberapa sentra produksi, baik di Jawa, daerah pacet, cipanas (cianjur), lembang (Bandung), semarang, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, dan Kalimantan Selatan, komoditas ini telah ditanam pada luasan tidak kurang dari 300 hektar.

Labu Kuning (Cucurbita moschata) merupakan komoditas pertanian yang cocok dikembangkan sebagai alternatif pangan. Buah ini memiliki kandungan gizi yang cukup dan bermanfaat untuk kesehatan.

Sumber ; Dari berbagai sumber yang dikumpulkan, dengan bantuan search www.google.co.id

Monday, July 1, 2013

KANDUNGAN GIZI LABU SIAM


Labu siam tentunya tidak asing bukan? Tanaman ini mudah di tanam, dan termasuk jenis tanaman merambat. JIka kita pernah merebus labu siam tanpa bumbu dan disertai kulitnya, rasanya manis dan enak untuk dimakan (meskipun tanpa dibuat sayur) 

Tanaman ini tidak hanya enak tetapi juga memiliki gizi dan tentunya memiliki khasiat yang meyehatkan untuk kita. Ingin tahu apa saja khasiat dan kandungan Gizinya, yuk simak artikel dibawah ini. 

Labu siam (sechium edule) adalah anggota dari keluarga labu-labuan yang pada awalnya dibudidayakan di Amerika Tengah oleh peradaban Maya dan Aztec. Setelah penaklukan Spanyol, labu siam kemudian menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia melalui orang-orang Belanda. Nama “labu siam” sebenarnya salah kaprah, karena buah itu tidak berasal dari Siam atau Thailand. Di seluruh dunia, labu siam dikenal dengan berbagai nama, termasuk chayote (Inggris), welok (Jawa), christophene (Perancis) dan chowchow (China). Sebagai buah non-musiman, labu siam mudah ditemukan di pasar-pasar di sepanjang tahun. Bentuknya seperti buah pir besar dengan kulit berwarna hijau muda atau hijau kekuningan. Beratnya bervariasi dari 50 gr sampai 2 kg dengan panjang 5 cm sampai 20 cm. Ada dua jenis labu siam, yaitu yang berkulit mulus dan yang berkulit dengan duri-duri kecil.

Labu siam biasanya dimasak sebagai sayur, misalnya ditumis dengan cabai atau disup sebagai campuran bayam atau sayur asam. Anda juga dapat mengisi labu siam dengan campuran daging giling dan dipanggang dalam oven. Rasa daging buahnya yang ringan menjadikannya cocok untuk aneka resep masakan.

Selain sebagai makanan, labu siam juga bermanfaat sebagai obat alami. Berbagai suku bangsa di Amerika Tengah telah secara tradisional menggunakan tanaman ini untuk melarutkan batu ginjal dan mengobati gangguan kemih lainnya. Suku Aztec, khususnya, merebus daun labu siam dan meminum airnya sebanyak 3-5 kali sehari untuk mengobati batu ginjal. Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan untuk menyembuhkan batu ginjal, asam urat, dan masalah metabolik lainnya berasal dari sifat diuretik daun dan buah tanaman itu. Labu siam juga dilaporkan dapat membantu mengurangi aterosklerosis dan hipertensi.

Kandungan gizi

  • Labu siam memiliki kadar vitamin C yang tinggi, rendah kalori, rendah sodium, tidak mengandung kolesterol, dan merupakan sumber serat yang baik. Berbagai kandungan gizi labu siam dan manfaat kesehatannya antara lain sebagai berikut:
  • Folat. Labu siam adalah sumber folat, vitamin B yang sangat bermanfaat bagi ibu hamil dan kesehatan kardiovaskuler.
  • Vitamin C. Vitamin C adalah salah satu antioksidan kuat yang dapat melindungi sel dari kerusakan oleh radikal bebas.
  • Mangan. Mangan dalam labu siam membantu tubuh mengubah protein dan lemak menjadi energi.
  • Serat. Membantu mencegah sembelit dan melancarkan pencernaan.
  • Tembaga. Membantu yodium dalam menjaga kesehatan tiroid.
  • Zinc. Membantu menyehatkan kulit.
  • Vitamin K. Membantu kesehatan tulang dan gigi.

Sumber : majalahkesehatan.com/labu-siam-sedap-dimakan-dan-berkhasiat

Sunday, June 30, 2013

ANEKA JENIS BUMBU MASAK REMPAH




Tidak banyak masakan Indonesia yang memakai bumbu ini. Angkak banyak digunakan untuk masakan Cina. Bumbu ini berasal dari beras ketan yang difermentasikan kemudian dikeringkan. Berwarna kemerahan dan sedikit kusam, karenanya dapat digunakan untuk memberi warna merah alami pada masakan. Haluskan angkak bersama bumbu yang lain.

Bumbu ngohiong disebut juga dengan nama five spice powder. karena bumbu ini merupakan campuran rempah-rempah yang dihaluskan. Diantaranya adalah pekak, merica szechuan, kayu manis, adas dan cengkih. Bubuk ini berwarna kecokelatan dan dijual siap pakai. Sangat cocok untuk bumbu rendaman ayam, bebek atau daging yang akan dipanggang.



Bentuk pekak sangat cantik menyerupai bintang. Pekak dikenal dengan istilah bunga lawang atau star anise. Beraroma harum menyerupai adas. Tanaman yang menghasilkan bunga pekak ini banyak dijumpai di daratan Cina. Tinggi pohon mencapai 8 meter dan baru berbuah pada usia 6 tahun.Sebaiknya pekak disimpan di tempat yang tertutup rapat. Pekak dapat memberikan aroma harum yang khas. Pekak banyak digunakan untuk masakan Cina dan Vietnam. Cara penggunaannya dapat dihaluskan atau dibiarkan utuh dan dimasukkan dalam masakan.



Adas berasal dari dataran mediterania, merupakan biji pohon fennel (fennel seed). Berbentuk sangat kecil dan pipih, berwarna kecokelatan. Aromanya sangat harum dan sedikit pedas. Orang Indonesia banyak memanfaatkan adas sebagai bumbu dapur dan obat tradisional. Sangat cocok untuk memberikan aroma harum dan segar pada masakan seperti sup , gulai atau kari . Untuk mendapatkan aroma yang harum, sangrai biji adas kemudian haluskan bersama bumbu yang lain.

Tidak banyak masakan Indonesia yang memakai bumbu ini. Angkak banyak digunakan untuk masakan Cina. Bumbu ini berasal dari beras ketan yang difermentasikan kemudian dikeringkan. Berwarna kemerahan dan sedikit kusam, karenanya dapat digunakan untuk memberi warna merah alami pada masakan. Haluskan angkak bersama bumbu yang lain.

Keluak mempunyai tekstur kulit yang keras, berwarna abu-abu. Daging buahnya berwarna cokelat tua kehitaman dan bertekstur lunak. Daging buah itulah yang dipakai sebagai bumbu.

Pilihlah keluak yang sudah tua, karena keluak muda mempunyai rasa sangat pahit. Keluak yang sudah tua akan mengeluarkan bunyi jika digoyang-goyangkan. Jika masih ragu cicipilah keluak untuk memastikan keluak tersebut tidak pahit. Keluak yang masih muda disebut picung. Rasanya gurih seperti kemiri dan biasa digunakan untuk pepes.Keluak tua pada umumnya digunakan untuk hidangan yang membutuhkan warna hitam seperti rawon atau brongkos, rasanya menjadi legit dan gurih. Jika akan digunakan pecahkan kulit keluak, kemudian ambil bagian isinya yang lunak dan haluskan bersama bumbu yang lain.


Buah kelapa sering digunakan dalam masakan Indonesia, baik daging buahnya ataupun dibuat terlebih dulu menjadi santan. Santan digunakan sebagai kuah dalam masakan Indonesia atau berbagai macam kue-kue tradisional. Daging buah yang dijadikan kelapa parut biasa digunakan untuk bumbu seperti sambal urapan atau campuranpada kue. Selain kelapa parut dan santan, olahan kelapa yang lain adalah areh dan poyah. Areh merupakan santan yang direbus hingga mengental dan membentuk gumpalan pada bagian atasnya, dipakai untuk saus kue atau lauk. Poyah adalah kelapa parut kering yang sudah ditumbuk halus.
Kelapa dapat memberikan rasa gurih pada makanan. Kelapa setengah tua lebih cocok bila digunakan untuk kelapa parut pada taburan kue atau urapan. Membuat santan lebih tepat jika menggunakan kelapa yang tua. Agar menghasilkan santan yang pekat dan kental gunakan air hangat untuk memerasnya dan jika menginginkan santan tidak pecah, gunakan api kecil saat memasaknya.

 

 Jintan (Trachyspermum roxburghianum syn . Carum roxburghianum) merupakan tumbuhan menjalar yang bijinya dapat digunakan untuk rempah-rempah dan obat-obatan. Biji tanaman ini sering digunakan sebagai bumbu dapur untuk masakan India.Tanaman ini banyak dibudidayakan di India dan Asia Tenggara.

Aromanya sangat harum, agak manis dan menjadi campuran bumbu hidangan tradisional di berbagai daerah Nusantara. Masakan yang sering menggunakan jintan adalah opor, gulai atau kari. Penggunaannya sebaiknya disangrai atau dihaluskan bersama bumbu lain saat akan diolah. Jintan juga tersedia dalam bentuk bubuk, yang
dikemas dengan botol.

Wijen (Sesamum indicum L. syn. Sesamum orientalis L.) adalah semak semusim yang termasuk dalam famili Pedaliaceae. Tanaman ini dibudidayakan sebagai sumber minyak nabati, yang dikenal sebagai minyak wijen, yang diperoleh dari ekstraksi bijinya. Afrika tropik merupakan daerah asalnya, kemudian tersebar ke timur hingga ke India dan Tiongkok. Di Indonesia, tanaman wijen tidak terlalu luas ditanam. Di daerah Gunungkidul, Yogyakarta, terdapat area penanaman wijen yang tidak terlalu luas.

Wijen sudah sejak lama ditanam manusia untuk dimanfaatkan bijinya, bahkan termasuk tanaman minyak yang paling tua dikenal peradaban. Kegunaan utama adalah sebagai sumber minyak wijen. Bijinya yang berwarna putih digunakan sebagai penghias pada makanan , misalnya onde -onde , dengan menaburkan di permukaannya. Biji wijen dapat dibuat pasta.


Kapulaga (Amomum cardamomum) selama ini dikenal sebagai rempah untuk masakan dan juga lebih banyak digunakan untuk campuran jamu. Di beberapa daerah kapulaga dikenal dengan nama kapol, palago, karkolaka, dan lain-lain.

Nama asing kapulaga adalah pai thou kou (bahasa Tionghoa). Orang Yunani menyebut buah itu cardamomom yang kemudian dilatinkan oleh orang Romawi menjadi cardamomum. Dalam bahasa Inggris disebut cardamom. Dalam bahasa Thai disebut krava, elaichi dalam bahasa Hindi, dan elakkaai dalam bahasa Tamil.

Tumbuhan kapulaga tergolong dalam herba dan membentuk rumpun, sosoknya seperti tumbuhan jahe, dan dapat mencapai ketinggian 2-3 meter dan tumbuh di hutan-hutan yang masih lebat. Kapulaga hidup subur di ketinggian 200-1.000 meter di atas permukaan laut.Buah yang sudah kering menjadi keriput, bergaris-garis, berisi 4-7 butir biji kecil cokelat kemerah-merahan. Rasanya agak pedas seperti jahe, tetapi baunya tidak. Kapulaga memiliki aroma sedap sehingga orang Inggris menyanjungnya sebagai grains of paradise.Oleh karena itu, dimanfaatkan untuk menambah aroma pada masakan, kue dan minuman. Ada dua jenis kapulaga, yaitu kapulaga putih yang banyak digunakan untuk masakan dan kapulaga hijau untuk kue dan minuman.

Saat akan digunakan kapulaga dimemarkan atau dihaluskan dan disangrai hingga harum agar aroma khas dapat tercipta. Kapulaga sebaiknya disimpan dalan stoples yang tertutup rapat.

Kemiri (Aleurites moluccana), adalah tumbuhan yang bijinya dimanfaatkan sebagai sumber minyak dan rempah-rempah. Tumbuhan ini masih sekerabat dengan singkong dan termasuk dalam suku Euphorbiaceae.

Dalam perdagangan antarnegara dikenal sebagai candleberry, indian walnut, serta candlenut. Kemiri adalah tumbuhan resmi negara bagian Hawaii.Manfaat kemiri antara lain:

• Kemiri sering digunakan dalam masakan Indonesia dan masakan Malaysia dan berfungsi sebagai bumbu penambah rasa gurih. Di Pulau Jawa, kemiri juga dijadikan sebagai saus kental yang dimakan dengan sayuran dan nasi. Ketumbar

• Kemiri juga dibakar dan dicampur dengan pasta dan garam untuk membuat bumbu masak khas Hawaii yang disebut inamona. Inamona adalah bumbu masak utama untuk membuatpoke tradisional Hawai.


Ketumbar (Coriandrum sativum), 

konon berasal dari Eropa selatan. Bentuk berupa biji kecil-kecil sebesar 1-2 milimeter. Mirip dengan biji lada tetapi lebih kecil dan lebih gelap. Selain itu, terasa tidak berisi dan lebih ringan dari lada.Berbagai jenis masakan tradisional Indonesia kerap menggunakan bumbu ini. Dengan tambahan bumbu tersebut, aroma masakan akan lebih nyata.Pilih biji ketumbar yang utuh dan berbutir besar. Sebaiknya disangrai terlebih dahulu sebelum digunakan dan simpan dalam toples yang tertutup rapat. Haluskan ketumbar bersama bumbu lainnya sebelum digunakan.

Pala (Myristica fragrans) merupakan tumbuhan berupa pohon yang berasal dari Kepulauan Banda, Maluku. Tumbuhnya dapat mencapai 20m dan usianya bisa mencapai ratusan tahun.Tumbuhan ini berumah dua (dioecious) sehingga dikenal pohon jantan dan pohon betina. Daunnya berbentuk elips langsing. Buahnya

berbentuk lonjong seperti lemon, berwarna kuning, berdaging dan beraroma khas karena mengandung minyak atsiri pada daging buahnya.

Daging buahnya diolah menjadi manisan. Aromanya sangat harum, tajam, bernuansa hangat dan manis. Pilihlah biji pala yang kering, baru dan beraroma segar.

Biji pala menambah cita rasa pada bumbu perendam daging, ikan atau ayam serta menjadikan kaldu atau sup semakin sedap. Bubuk pala dipakai sebagai penyedap untuk roti atau kue, puding, saus, sayuran, dan minuman penyegar (seperti eggnog).


sejenis tumbuhan rumput-rumputan yang daunnya panjang seperti ilalang, dipakai sebagai bumbu dapur untuk mengharumkan makanan. Minyak serai merupakan minyak atsiri yang diperoleh dengan jalan menyuling tanaman tersebut.

Salah satu guna lain dari serai adalah baunya dapat digunakan untuk mengusir nyamuk, baik berupa tanaman ataupun berupa minyaknya.Sebelum digunakan, serai dapat dipotong 10-15 cm dari ujung akarnya, bersihkan kemudian memarkan. Bagian ujung inilah yang memberikan aroma khas. Masukkan bersama bumbu lain dan angkat serai saat hidangan akan disajikan. Untuk membuat minuman, serai dapat direbus dengan air atau di campur dengan air teh atau air jeruk nipis. Minuman ini dikenal dengan teh serai.


Temu kunci (Boesenbergia rotunda (L.) Ma nsf. syn. Curcuma rotunda L., B. pandurata (Roxb.) Schlechter, Kaempferia pandurata Roxb.) adalah sejenis rempah-rempah yang dipakai sebagai bumbu dalam masakan Asia Tenggara. Salah satu keluarga jahe ini merupakan rempah asli Jawa dan Sumatra. Temu kunci atau chinese key ini berbentuk sekelompok umbi akar yang mirip jari telunjuk, memanjang, langsing dan lurus. Kulit luarnya berwarna cokelat muda dan sangat tipis. Bagian dalamnya berwarna kuning muda dengan aroma segar yang khas. Bisa digunakan dalam membuat sayur bening, hidangan ikan, selada dan urapan. Pilihlah umbi akar yang tua, kupas lalu memarkan agar aromanya keluar atau iris halus lalu tumis dengan bumbu lain.


 

 Masakan tradisional Indonesia tidak terlepas dari bumbu ini. bumbu yang masih tergolong dalam keluarga rempah-rempah ini mempunyai ciri-ciri seperti jari tangan, kulitnya bergaris-garis dengan warna cokelat kekuningan dan tipis. Aroma kunyit sangat khas dan sedikit pahit. Kunyit mempunyai warna kuning dan jika sudah berumur tua hampir mendekati orange, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami.

Biasa dipakai untuk mewarnai nasi kuning, bumbu opor, kari dan gulai. untuk memperoleh warna yang tajam, pilihlah kunyit yang tua, berumbi besar dan mulus. kunyit dapat disimpan di tempat yang sejuk dan dingin. Biasanya sebelum kunyit digunakan dan dihaluskan dengan bumbu yang lain, kunyit dibakar terlebih dahulu.


Jahe (Zingiber officinale), adalah tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Berbentuk jemari yang menggembung di ruas-ruas tengah.Rasa dominan pedas disebabkan senyawa keton bernama zingeron. Jahe termasuk suku Zingiberaceae (temu-temuan). Nama ilmiah jahe diberikan oleh William Roxburgh dari kata Yunani zingiberi, dari bahasa Sanskerta, singaberi.

Jahe diperkirakan berasal dari India. Namun ada pula yang mempercayai jahe berasal dari Tiongkok Selatan. Terdapat dua jenis jahe yaitu jahe putih dan jahe merah. Jahe putih digunakan sebagai bumbu dan jahe merah digunakan untuk obat. Aroma jahe sangat tajam segar dan rasanya pedas atau panas.

Jahe putih muda berkulit tipis dan berujung kemerahan, tangkai kehijauan dengan kandungan air cukup banyak. Ada pula jahe dalam bentuk manisan berbentuk potongan dadu kecil dan bersalut gula. Acar jahe terbuat dari jahe utuh atau irisan tipis yang dibumbui dengan sedikit garam dan gula.

Jahe tua yang segar biasaanya dipakai untuk hidangan tumis, hidangan berkuah terutama seafood dan minuman, karena beraroma tajam, dan menghilangkan bau anyir. Jahe bubuk dapat digunakan untuk menambah aroma pada kue-kue dan biskuit,sirup, serta campuran bubuk rempah. Manisan jahe dipakai untuk campuran cake dan taburan es krim karena rasanya lebih manis.

Acar jahe dipakai untuk pelengkap hidangan bakar atau pang-gang.

Kencur (nama bahasa Jawa dan bahasa Indonesia) dikenal di berbagai tempat dengan nama yang berbeda-beda: cikur (bahasa Sunda), ceuko (bahasa Aceh), kencor (Madura), cekuh (bahasa Bali), kencur, sukung (bahasa Melayu Manado), asauli, sauleh, soul, umpa (bahasa-bahasa di Maluku), serta cekir (Sumba).Berbagai resep masakan tradisional Indonesia dan jamu menggunakan kencur sebagai komponennya. Kencur dipakai orang sebagai tonikum dengan khasiat menambah nafsu makan sehingga sering diberikan kepada anak-anak. Jamu beras kencur sangat populer sebagai minuman penyegar pula.

Lengkuas/laos 

Lengkuas atau laos (Alpinia galanga) adalah rempah rempah populer dalam tradisi boga dan pengobatan tradisional Indonesia maupun daerah Asia Tenggara lainnya. Bagian yang dimanfaatkan adalah rimpangnya yang beraroma khas.Lengkuas dapat memberikan aroma segar pada hidangan tumis, pindang, dan hidangan berkuah santan. Pemanfaatan lengkuas biasanya dengan mememarkan atau memotong tipis kemudian dimasukkan ke dalam masakan.



Disebut juga daun temurui atau daun salam koja. Tekstur daunnya hampir mirip daun salam tetapi ukurannya lebih kecil. Daun ini dapat membuat masakan menjadi lebih gurih.

 

Daun ini mempunyai aroma yang sangat segar dan khas, sangat mudah diperoleh. Ada yang menyebutnya dengan istilah daun selasih atau daun ruku-ruku. Daun kemangi bisa dikonsumsi mentah atau dimasak terlebih dahulu. Manfaat daun kemangi adalah memberi rasa khas dan aroma yang harum serta tajam.

 
NEXT - SELANJUTNYA ANEKA JENIS BUMBU MASAK REMPAH

Tanah Yang Baik Untuk Menanam Cabai Merah

Tanah Yang Baik Untuk Menanam Cabai Merah


Sumber Gambar: http://ershortiers.files.wordpress.com

Secara umum, lahan di Indonesia dibedakan menjadi kawasan beriklim basah dan beriklim kering. Lahan di daerah beriklim basah didominasi oleh tanah masam akibat pencucian yang intensif, seperti Podzolik Merah-Kuning, Latosol, Andisol, dan Aluvial. Tanah-tanah tersebut umumnya miskin unsur hara dengan pH masam (kecuali tanah Aluvial), dan rendah kadar bahan organiknya (kecuali tanah Andisol). 

Lahan di daerah beriklim kering didominasi oleh tanah alkalin seperti Grumosol dan Mediteran. Secara umum sifat kimiawi tanah beriklim kering lebih baik daripada tanah beriklim basah, karena kandungan hara dan basa cukup tinggi, dengan pH netral. Namun kandungan bahan organik, hara S, hara mikro (Cu dan Zn) umumnya rendah. Lahan sawah hampir terdapat pada setiap jenis tanah, tetapi luas dan kondisinya tergantung pada ketersediaan hujan.

Kebanyakan lahan sawah terdapat pada jenis tanah Aluvial. Kendala kesuburan pada lahan sawah terutama ketersediaan fosfat (P), sementara unsur Ca, Mg dan K umumnya cukup tinggi. Berdasarkan luas areal penanamannya, lahan paling cocok untuk tanaman cabai merah di Indonesia dijumpai pada jenis tanah Mediteran danAluvial dengan tipe ikiim D3/E3, yaitu 0-5 bulan basah dan 4-6 bulan kering.

Kemasaman Tanah dan Pengapuran
Kemasaman (pH) tanah mempengaruhi ketersediaan hara bagi tanaman. Pada pH netral (6,5-7,5) unsur-unsur hara tersedia dalam jumlah yang cukup banyak (optimal). Pada pH < 6,0 ketersediaan hara P, K, Ca, S dan Mo menurun dengan cepat. Pada pH > 8 ketersediaan hara N, Fe, Mn, Bo, Cu dan Zn relatif sedikit
.
Cabai merah mempunyai toleransi yang sedang terhadap kemasaman tanah, dan dapat tumbuh baik pada kisaran pH tanah antara 5,5 - 6,8. Pada pH > 7,0 tanaman cabai merah seringkali menunjukkan gejala klorosis, yakni tanaman kerdil dan daun menguning karena kekurangan hara besi (Fe). Pada pH < 5,5 tanaman cabai merah juga akan tumbuh kerdil karena kekurangan Ca, Mg dan P atau keracunanAI dan Mn (Knott 1962).

Pada tanah masam (pH < 5,5) perlu dilakukan pengapuran dengan Kaptan atau Dolomit dengan dosis 1-2 t/ ha untuk meningkatkan pH tanah dan memperbaiki struktur tanah. Pengapuran dilakukan 3-4 minggu sebelum tanam, dengan cara menebarkan kapur secara merata pada permukaan tanah lalu kapur dan tanah diaduk. Pada tanah masam disarankan tidak menggunakan terlalu banyak pupuk yang bersifat asam seperti ZA dan Urea. Pupuk N yang paling baik untuk tanah masam adalah Calcium Amonium Nitrate (CAN). Pupuk yang bersifat masam akan baik pengaruhnya bila digunakan pada tanah Alkalin.

Perbaikan Sifat Fisik Tanah
Tanah yang ideal terdiri atas tiga komponen, yaitu masa padatan, air dan udara, masing-masing dengan volume sepertiga bagian. Keadaan ini akan menjamin aerasi, daya tahan air, drainase, dan aktivitas biologi tanah yang cukup baik. Perbaikan sifat fisik tanah antara lain dapat dilakukan dengan pengolahan tanah dan pemberian bahan organik. Bahan organik mempunyai sifat mengurangi kepadatan tanah berat (tanah liat) dan meningkatkan daya tahan air bagi tanah ringan (tanah pasir). Tanah yang berpasir sekurang-kurangnya harus mengandung bahan organik 4 (C-organik 2), dan untuk tanah liat diperkirakan harus mengandung bahan organik 2(C-organik1).

Kebutuhan Unsur Hara
Lahan dengan kesuburan kimia yang kurang baik tidak merupakan faktor pembatas yang serius dalam budidaya cabai merah, karena penggunaan pupuk organik dan pupuk buatan relatif mudah. Hal yang tidak menguntungkan adalah adanya pemberian pupuk yang berlebihan dan tidak berimbang. Sering dijumpai petani yang memberikan pupuk secara berlebihan (terutama pupuk N) dengan maksud mendapatkan hasil yang setinggi-tingginya, tetapi pada kenyataannya hasilnya tidak selalu memuaskan. Penggunaan pupuk yang berlebihan dapat menjadikan tanaman rentan terhadap serangan hama dan penyakit, serta dapat menurunkan kualitas tanah. Untuk menghasilkan buah sebanyak 21 t/ha, tanaman cabai merah harus menyerap unsur hara N sebanyak 70 kg/ ha, P205 16 kg /ha, dan K20 92 kg /ha

(IFA World Fertilizer Use Manual, 1992 cit. Sutarya et al. 1995). Bila efisiensi serapan N diperkirakan 60, P 40dan K 70, maka pupuk N yang perlu diberikan adalah 70 kg/ 0,6 = 117 kg, P205 adalah 16 kg/ 0,4 = 40 kg, dan K20 adalah 92 kg/ 0,7 = 131 kg per ha. Kebutuhan pupuk tersebut bervariasi tergantung pada jenis lahan, varietas, dan waktu tanam.

Saturday, June 15, 2013

ARTIKEL TENTANG FILSAFAT PADI

Orang bijak sering berujar, tirulah ilmu padi. Kian berisi, kian merunduk. Maksud dari pesan bijak itu adalah jika kita memiliki ilmu janganlah sombong, tetapi sebaliknya hendaklah semakin bijaksana. Semakin banyak pengetahuan dan ilmu yang kita miliki hendaknya semakin arif dan bijak pula kita. Demikianlah pesan tadi yang mengandung makna filsafat yang mendalam.

Mengapa pesan tersebut dikatakan mengandung nilai filsafat? Kata filsafat sendiri berarti cinta terhadap kebijaksanaan ataupun cinta akan kearifan. Menurut Bakhtiar (2011) kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophy, yang terdiri dari dua kata: philos dan sophos. Philos berarti cinta dan sophos berarti hikmah atau bijaksana. Dengan demikian, secara harfiah filsafat bermakna cinta bijaksana. Namun, secara lebih luas, filsafat didefinisikan sebagai berpikir secara menyeluruh, mendalam, logis, sistematis, tapi juga spekulatif mengenai hakikat segala sesuatu untuk mencari kebenaran.

Bila diresapi dengan mendalam, maka betapa filsafat mengandung nilai yang sangat luhur dan sangat dibutuhkan di dalam kehidupan manusia. Sebenarnya filsafat sudah banyak berperan dalam kehidupan manusia sejak berabad-abad lalu. Dulu orang percaya pada dewa-dewa penyebab bencana, seperti dewa banjir, dewa gempa, dan dewa-dewa lainnya yang sangat menakutkan. Setelah belajar filsafat kemudian orang tidak takut lagi pada dewa-dewa tersebut, karena sesungguhnya fenomena alam tidak terkait sama sekali dengan dewa. Namun, kini filsafat dirasakan lebih dibutuhkan lagi daripada di masa lalu. Saat ini kebutuhan manusia lebih banyak dan lebih beragam, sehingga untuk memenuhi kebutuhannya, manusia memerlukan lebih banyak ilmu dan pengetahuan dibanding dahulu kala.

Terkait dengan perannya dalam pengembangan ilmu dan pengetahuan. Suriasumantri (1999) menyatakan bahwa filsafat adalah pionir dan peneretas pengetahuan. Meminjam pendapat Will Durant, beliau menyatakan bahwa filsafat dapat diibaratkan sebagai pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infantri. Pasukan infantri ini adalah sebagai pengetahuan yang di antaranya ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan ilmuwan. Sebab setelah itu, ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan, menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa filsafat juga berperan sebagai pengawal ilmu dan pengetahuan.

Tanpa dikawal filsafat, selain berguna, ilmu dapat juga menyebabkan bencana dan membawa malapetaka bagi manusia. Banyak contoh sudah terjadi. Bom atom yang dikembangkan atas dasar ilmu telah menjadi monster pembunuh pada perang dunia II. Reaktor nuklir juga tidak sedikit menelan korban. Akhir-akhir ini ada upaya untuk mengkloning manusia, yang bila tidak dikawal oleh pikiran jernih dari kearifan filsafat juga akan membawa bencana bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Bakhtiar (2011) menyatakan bahwa ilmu tanpa pengawalan filsafat dapat membawa ilmu tersebut kepada tujuan yang tidak bermanfaat bagi manusia, bahkan bencana.

Bagaimana filsafat mengawal ilmu? tentunya dengan filsafat ilmu. Menurut Bakhtiar (2011) filsafat ilmu adalah kajian secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu. Dasar-dasar ilmu yang dimaksud terdiri dari 1) objek yang ditelaah, 2) metode mendapatkannya, dan 3 tujuannya. Ketiga objek ilmu tersebut dikaji dengan proses berpikir yang mendalam dan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran. Ilmu dan bagian-bagiannya barulah dapat dikatakan benar bila memenuhi tolok ukur kebenaran. Dalam filsafat, ada tiga tolok ukur kebenaran yang bisa dipakai. Pertama, sesuatu itu dapat dikatakan benar bila subjek dan objeknya berkorespondensi (selaras). Kedua, sesuatu itu benar, bila sesuatu itu konsisten (sesuai) dengan yang sebelumnya yang dianggap benar. Ketiga, sesuatu itu benar, bila sesuatu itu bermanfaat bagi manusia.

Secara filsafat, tiga tolok ukur kebenaran ini secara bersama atau sendiri-sendiri dapat digunakan sebagai acuan untuk mencari kebenaran. Tulisan ini mencoba melihat kebenaran pada praktek agronomi penanaman padi oleh para petani. Kebenaran, sebagaimana dijelaskan di atas, bisa dilihat dari tolok ukur kebenaran secara langsung, tetapi juga dapat didekati secara tak langsung dari posisi yang berlawanan, yaitu ketidakbenaran. Dengan kata lain, kita dapat mencari kebenaran dengan melihat sesuatu dari sisi ketidakbenarannya. Oleh karena itu, selanjutnya, ketidakbenaran anggapan dan prilaku akan sering dipakai dalam sajian tentang filsafat bertanam padi nantinya. Pertama sekali, marilah kita lihat terlebih dahulu apa itu padi.

Padi adalah tanaman yang termasuk dalam jenis rumput-rumputan. Akarnya termasuk akar serabut. Batangnya berbuku-buku dan di dalamnya kosong seperti pipet yang digunakan untuk pertukaran gas. Daunnya seperti pita. Bunga jantan dan betina ada dalam satu bunga yang terletak pada malai, yang kemudian menjadi gabah. Ada banyak varietas padi yang ditanam oleh para petani. Ada banyak ragam teknik agronomi yang dipakai serta ada banyak juga ragam pandangan dan anggapan menyangkut dengan padi. Sesuai judul di atas mari kita lihat tanaman ini dari sisi pandang filsafat bertanam padi.

Filsafat bertanam padi yang dimaksud di sini adalah filsafat yang berkenaan dengan cara bercocok tanam padi. Karena filsafat mengandung arti bijak, maka secara sederhana, filsafat bertanam padi adalah penerapan cara bertanam padi secara bijak atau arif; Atau dengan sedikit pengertian filsafat yang lebih luas, adalah bertaman padi secara benar dan bermanfaat. Pertanyaannya apakah sekarang ini para petani kita telah bijak dalam bertanam padinya. Jawabannya bisa beragam, bisa bijak, tidak bijak, belum bijak, atau sudah tidak bijak lagi.

Kalau jawabannya yang terakhir kita ambil maka itu bermakna dulu pernah bijak, tetapi sekarang tidak bijak lagi. Kalau jawabannya belum bijak, maka itu artinya mereka belum tahu bagaimana yang bijak sehingga ada harapan mereka akan jadi bijak manakala mereka sudah diberi tahu bagaimana yang bijak. Yang manapun jawabannya, kita perlu memberi tahu kepada para petani bagaimana seharusnya bertanam padi yang bijak, yang secara filosofi adalah juga benar.

Sesungguhnya petani padi memiliki banyak sekali pengetahuan tentang tanaman padi dan sawahnya. Pengetahuan tersebut diperolehnya dari berbagai sumber. Ada dari penyuluh, orang tua atau kerabatnya, baik secara turun temurun ataupun in situ di tempat dia bertanam. Menurut Suriasumantri (1999) dan Bakhtiar (2011) sumber pengetahuan dapat berasal dari rasio, pengalaman, intuisi, dan wahyu. Sebagian pengetahuan yang mereka miliki adalah benar dan berguna bagi pertumbuhan dan produksi pertanamannya, namun sering juga tidak rasional, bahkan ada juga yang keliru sehingga merugikan pertanaman dan dirinya sendiri.

Penulis mencoba mengangkat beberapa anggapan dan prilaku petani padi yang keliru. Secara filsafat, praktek ini dapat dikatakan tidak benar dan tidak memberikan manfaat apa-apa bagi petani, bahkan cenderung merugikan. Ada selusinan atau bahkan lebih kekeliruan yang terus dipraktekkan para petani di tanah sawahnya.

Kesalahan pertama adalah anggapan bahwa varietas padi baru tidak bagus dan tidak cocok. Akibatnya, para petani enggan menanam varietas padi baru. Anggapan ini penulis dengar sendiri ketika bertugas di Nias, tahun 2006 setelah kejadian gempa dan tsunami 2004. Ketika itu, penulis bersama petugas lainnya, berusaha memperkenalkan varietas Ciherang, karena dari kajian ditemukan bahwa varietas ini sangat menjanjikan. Kemudian memang terbukti bahwa varietas ini dominan ditanam di Indonesia dan memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas sebelumnya (BBPTP, 2005).

Bertolak belakang dengan pendapat di atas, banyak juga petani kita berpandangan bahwa varietas lama (varietas asli daerah) tidak perlu dipertahankan dan dilestarikan keberadaannya. Pandangan ini memang jarang disampaikan dalam bentuk lisan, tetapi indikasinya bisa ditangkap dari kenyataan di lapangan. Sekarang ini, hampir tidak ada lagi petani padi yang menanam varietas asli daerah, kecuali sedikit sekali. Di tempat kelahiran penulis, Kuala Simpang, Aceh Tamiang, varietas asli sudah sangat sulit ditemukan, kalau tidak mau mengatakan sudah punah. Masih teringat, dulu ada yang namanya varietas Si Raup, Si Kuning, Si Kruing, dan Si Pahit. Lalu, apa gunanya varietas ini dilestarikan? Jawabannya adalah sebagai sumber plasma nutfah atau sebagai sumber keragaman genetik untuk keperluan pemuliaan tanaman, khususnya padi. Sebagai contoh pada pemuliaan padi tahan kekeringan, Blum (2011) menyarankan bahwa di antara sumber plasma nutfah yang tersedia, agar plasma nutfah dari tanaman budidaya dijadikan pilihan pertama sebagai sumber genetik. Karena menurut beliau, di dalam plasma nutfah tanaman budidaya, terkandung beragam gen laten yang berguna untuk program pemuliaan tanaman, termasuk tahan kekeringan. Dari segi pemuliaan, penggunaan sumber gen yang berkerabat dekat lebih memungkinkan untuk berhasil dibanding bila menggunakan sumber yang sangat asing.

Dari segi agronomi, pandangan keliru lainnya adalah banyak tanaman, banyak hasil. Ini mungkin mirip dengan pandang “banyak anak, banyak rezeki”. Implikasi buruk dari pandangan ini adalah petani menanam padi dengan jarak tanam yang sangat rapat, ditambah lagi sangat banyak tanaman dalam satu lubang tanam. Sebagai ilustrasi, ada petani yang menanam padi dengan jarak 10 cm x 10 cm dan dalam satu lubang tanam berisi 6 tanaman. Bila dihitung, maka satu hektar sawah berisi 6 juta batang padi, yang juga berasal dari 6 juta butir benih padi. Jumlah ini sebanding dengan 150 kg benih padi dengan asumsi 1000 butir padi sama dengan 25 g. Padahal, secara agronomi, padi dapat ditanam dengan jarak 25 cm x 25 cm (Thakur, 2010) atau serapat-rapatnya 20 cm x 20 cm dan dalam satu lubang cukup satu tanaman saja, sebagaimana pada metode SRI (Thakur et al. 2010). Dengan cara ini, maka satu hektar hanya berisi 160 ribu atau 250 ribu batang saja, yang bila dikonversi ke biji menjadi setara 4,0 kg atau 6,25 kg benih saja. Coba lihat betapa tidak efisiennya petani kita yang menabur benih padi sebanyak 150 kg dari yang seharusnya cukup 4 – 6,25 kg saja untuk satu hektar sawah. Ini baru dilihat dari kebutuhan benih, belum lagi dari segi tenaga kerja dan waktu yang terbuang percuma. Ini sungguh sangat boros dan tidak ekonomis sama sekali.

Anggapan lain yang sama buruknya adalah semakin banyak air yang diberikan, semakin banyak hasil padi. Akibatnya, pemakaian air sangat boros per satuan luas sawah, berikutnya jumlah sawah yang dapat diairi menjadi lebih sempit dari yang seharusnya. Padahal, sebenarnya padi bukanlah murni tanaman air, karena kenyataannya padi memang dapat juga hidup dan berproduksi tinggi pada lahan darat. Dengan demikian, air bukanlah faktor mutlak melainkan sebagai faktor pendukung. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa kesehatan tanah sawah tempat padi di tanam lebih baik bila tidak digenangi terus menerus (Hanafiah et al., 2009). Dengan demikian, sebenarnya padi tidak memerlukan terlalu banyak air seperti yang disangkakan dan justru akan lebih produktif bila air diberikan secara macak dan terputus-putus. Menurut Prisilla et al. (2012), pemberian air irigasi dengan debit yang berubah-ubah sangat penting bukan saja untuk perbaikan sistem irigasi, tetapi juga untuk melindungi sumber air bagi masa depan.

Pemikiran buruk lainnya adalah banyak pupuk, banyak hasil. Pemeo ini sebenarnya tidak produktif dan bahkan sangat merusak lingkungan. Petani kita kadang-kadang sudah keterlaluan dalam menggunakan pupuk, terutama pupuk anorganik. Penulis sendiri pernah menyaksikan sendiri bagaimana mereka memberikan pupuk pada lahan sawahnya, karena tempat tinggal penulis berkebetulan dekat dengan persawahan. Barangkali petani tidak pernah menghitung pemakaian pupuknya, tetapi bila kita hitung, bisa jadi pupuk yang digunakan bisa mencapai dua kali lipat dari yang dianjurkan. Bisa jadi pula dosis anjuran pun sudah terlalu banyak, karena belum ada kajian yang mendalam sebenarnya berapa dosis yang aman untuk produktivitas padi sekaligus kesehatan tanah sawah untuk mendukung perpadian dan persawahan yang berkelanjutan. Menurut Cummings dan Orr (2010) kendatipun aplikasi pupuk N anorganik telah memberikan keuntungan yang nyata pada produksi pangan dan ketahanan pangan dunia dalam jangka pendek, namun ada keprihatinan yang meluas terhadap keberlanjutan penggunaan teknologi ini untuk jangka panjang agar dapat terus memberi makan seluruh populasi dunia yang terus meningkat. Penggunaan pupuk N anorganik secara terus menerus akan menyebabkan perusakan tanah pertanian, antara lain sebagai akibat dari hilangnya bahan organik, pemadatan tanah, peningkatan salinitas, dan pencucian nitrat anorganik.

Bahan organik tidak berfaedah adalah kesalahan lain. Sumber bahan organik tidak dimanfaatkan. Jerami padi tidak dikembalikan ke sawah, melainkan diangkut bersama malai yang dipanen, bahkan sebagiannya lagi dibakar. Barangkali ada kemalasan ikut terlibat di sini. Pernah suatu ketika, penulis berdialog dengan seorang petani padi tentang pemanfaatan jerami sebagai sumber pupuk organik untuk pertanaman padinya. Pertanyaan penulis adalah mengapa petani selalu membakar jerami setelah panen berakhir. Jawabannya cukup sederhana, karena jerami-jerami itu mengganggu jalannya traktor mesin pengolah lahan nantinya. Sebagai catatan, petani memang selalu menumpuk jerami padi di pematang atau di tengah sawah. Tumpukan itulah yang dimaksud mengganggu tadi dan dengan membakarnya tumpukan tersebut langsung hilang dalam semalam. Padahal dengan sedikit rajin, penyerakan jerami ke permukaan lahan sawah dapat juga segera menghilangkan tumpukan yang mengganggu tadi, tanpa harus membakarnya. Membakar jerami sama artinya menghilangkan sumber bahan organik dan yang tersisa hanya abu dengan sedikit bahan mineral. Menyerakkan jerami sama artinya dengan memberikan sumber bahan organik ke dalam tanah, yang sangat berarti bagi kesuburan dan kesehatan tanah, berikut tanaman yang tumbuh di atasnya. Lalu, apa gunanya bahan organik pada tanah?. Funderbug (2001) menyatakan bahwa bahan organik berguna sebagai suplai unsur hara, kapasitas menahan air, agregasi struktrur tanah, dan pencegah erosi. Lebih jauh lagi, sebenarnya bahan organik dalam tanah bisa berfungsi seperti magis, mediator, atau penyangga dari kondisi ekstrem di dalam tanah. Menurut CSIRO (2011) bahan organik merupakan indikator kunci akan kesehatan tanah dan memainkan peran penting pada sejumlah fungsi, seperti biologi, kimia, dan fisik.

Lain jerami, lain lagi pupuk kandang. Bagi sebagian petani padi, pupuk kandang menjadi pantang diberikan pada sawah. Ada anggapan, pupuk kandang yang berupa kotoran ternak merupakan sumber penyakit bagi tanaman padinya. Kesalahan persepsi ini bisa jadi disebabkan oleh salah tindak pada pupuk ini. Waktu pemberian yang tidak tepat mungkin saja penyebab utamanya atau ada pengalaman buruk lain bersama dengan penggunaan pupuk ini. Akibatnya jarang sekali petani padi memupuk tanamannya dengan pupuk kandang. Sebenarnya, pupuk kandang sangat baik diberikan kepada tanaman padi dan kebaikannya sama seperti pada tanaman lainnya. Pupuk kandang banyak mengandung bahan organik, mikroorganisme, dan juga bahan anorganik. Menurut Rusmarkam dan Yowono (2002) pupuk kandang sebagai salah satu sumber bahan organik dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya menahan air, meningkatkan kapasitas tukar kation, memperbaiki kehidupan biologi tanah, dan juga meningkatkan daya sangga tanah. Namun demikian, perlu juga dipahami bahwa pupuk kandang juga memiliki sifat yang kurang baik, antara lain memiliki rasio C/N tinggi dalam keadaan basah/mentah. Oleh karenanya, disarankan tidak memberi pupuk kandang dalam keadaan masih mentah pada lahan sawah. Jika pun diberikan mentah hendaknya jauh hari sebelum penanam padi dilakukan.

Yang tidak kalah kelirunya juga ada pada pengendalian hama dan penyakit padi. Menyemprotkan pestisida, terutama insektisida seperti sudah merupakan keharusan pada pertanaman padinya. Ada tidaknya hama dan penyakit di pertanaman padi di sawah tidak menjadi soal yang penting. Akibatnya, residu pestisida di sawah terus terakumulasi. Tidak hanya mencemari tanah sawah saja, air dan sumber air pun ikut tercemar. Banyak mikroorganisme dan makroorganisme yang berguna ikut mati terbunuh oleh pestisida, sehingga kesehatan tanah sawah terus menurun dari tahun ke tahun. Menurut Supardi (2003) pestisida seperti DDT, aldrin, endrin, dan fosfor organik bila mencemari tanah pertanian akan merugikan sebab senyawa tersebut dapat membunuh mikroorganisme yang sangat penting bagi tanah untuk proses dekomposisi dan sintesis senyawa organik dan anorganik. Bila penggunaannya tidak terkontrol, insektisida bisa juga menimbulkan pencemaran lingkungan, seperti air minum, merugikan kesehatan, dan juga mengakibatkan terjadinya resistensi terhadap senyawa tersebut. Selain itu, insektisida ada juga yang bersifat karsinogenik, yaitu senyawa yang bisa menimbulkan terjadinya kanker dan tumor ganas.

Sebenarnya, daftar keliru dari prilaku petani masih bisa ditambah lagi. Namun, kita cukupkan dulu di sini. Barangkali lebih baik bagi kita untuk mencoba mengambil pelajaran daripadanya. Kita berharap apa yang penulis paparkan di atas hanyalah sekadar akibat ketidaktahuan atau kekurangpahaman para petani saja, bukan merupakan bagian dari budaya bangsa kita. Mengapa demikian, karena menurut Ashley Montagu dalam Suriasumantri (1999), kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya. Bisa dibayangkan betapa buruknya rupa masyarakat petani padi kita, bila kebutuhan dasarnya banyak yang keliru.
Muhammad Hatta
DAFRTAR PUSTAKA
Bakhtiar, A. 2011. Filsafat Ilmu. PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta. 266 hlm.

Sunday, May 19, 2013

Hidroponik: Minus Tanah, Panen Melimpah

Hidroponik: Minus Tanah, Panen Melimpah

Hobi berkebun tetapi memiliki lahan yang terbatas? Inilah salah satu solusinya agar hobi berkebun masih bisa dilakukan, yaitu bertanam dengan sistem hidroponik. Keuntungannya, tidak perlu berkotor-kotor dengan tanah tapi panen bisa lebih melimpah.

Metode yang menggunakan larutan mineral bernutrisi atau bahan lainnya yang mengandung unsur hara seperti sabut kelapa, serat mineral, pasir, pecahan batu bata, serbuk kayu.Ada 2 jenis media tanam hidroponik yang dapat digunakan yaitu media tanam padat maupun cair dan media tanam organik maupun anorganik.

Untuk jenis tanaman yang cocok ditanam pada media tanam hidroponik adalah golongan tanaman hortikulutura meliputi: tanaman sayur, tanaman buah, tanaman hias, dan tanaman obat-obatan. Hampir semua tanaman sebenarnya bisa dibudidayakan dengan sistem hidroponik mulai dari bunga, sayur-sayuran, buah-buahan serta umbi-umbian.

Beberapa keuntungan yang bisa didapatkan apabila bertanam dengan sistem hidroponik antara lain :Ramah Lingkungan karena tidak menggunakan pestisida atau obat hama.Tidak merusak tanah karena tidak menggunakan media tanah serta tak perlu lahan yang luas.Dapat ditanam kapan saja karena tidak mengenal musim.

Dapat ditanam dimana saja mulai dari garasi, atap ataupun lahan sempit yang kosong.Lingkungan tetap bersih.Menghemat pemakaian pupuk.Hasil tanaman bisa dimakan secara keseluruah karena bebas kotoran dan hama.

Tidak perlu menyiram air setiap hari.Pertumbuhan tanaman pun lebih cepat dan kualitasnya tak kalah baik.Tidak ada masalah hama dan penyakit tanaman yang ditimbulkan bakteri.Jadi segera manfaatkan lahan sempit yang anda miliki untuk tanaman hidroponik, selamat mencoba!

Tuesday, May 7, 2013

Cara Membuat Pupuk Organik Dari Keong Mas

Cara Membuat Pupuk Organik Dari Keong Mas

Di balik hal yang merugikan ternyata selalu ada sisi positif yang menguntungkan. Salah satu contohnya adalah keong mas, selama ini keong mas dikenal sebagai hama pada tanaman padi yang cukup sulit dikendalikan. Namun jika kita mau kreatid ternyata banyak manfaat yang bisa diperoleh dari keong mas. Selama ini banyak petani yang menggunakan keong mas sebagai makanan ternak dan ikan, namun masih ada manfaat lain keong mas yaitu sebagai pupuk organik cair. Membuat pupuk ornganik dari keong mas selain membantu mengendalikan hama, juga mewujudkan pertanian organik yang lebih sehat.

Ada beberapa keunggulan yang bisa dirasakan petani saat menggunakan pupuk organik dari keong mas ini. Dengan mengaplikasikan pupuk organik keong mas ini tanaman dan buah akan lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan dengan pupuk kimia lainnya. Selain itu pupuk organik ini mampu menghidupkan organisme tanah yang sudah mati sehingga akan kembali subur. Yang penting lagi pupuk organik ini tidak menimbulkan efek buruk kepada tumbuhan dan petani karena tidak bercampur dengan bahan kimia, dan tidak akan tumbuh hama.

Salah satu yang sudah membuat dan mengaplikasikan pupuk cair organik dengan bahan keong mas ini adalah Siswa SMK Negeri Pertanian Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Menurut Ketua Jurusan Agronomi, Awan Sudianto, pengembangan pembuatan pupuk cair organik dari keong racun ini sudah berjalan satu tahun. Untuk cara pembuatan pupuk organik ini menurutnya tidaklah sulit. Harga jualnyapun cukup murah, hanya Rp 20 ribu rupiah/2 liter. Setiap liter bisa dicampurkan dengan air sebanyak 10 liter, yang bisa digunakan untuk lahan 1 hektar.Manfaat yang besar dan murah serta menciptakan metode pertanian yang ramah lingkungan membuat SMK Negeri Pertanian Cibadak berinovasi dalam pembuatan pupuk ini.

Cara Pembuatan Pupuk Organik Keong Mas

Pembuatan pupuk organik keong mas ini sebenarnya sudah dilakukan oleh petani di berbagai daerah. Yang dilakukan SMK Pertanian Cibadak ini cukup sederhana dan mudah dilakukan. Untuk membuat pupuk organik ini diperlukan waktu dua minggu. Fermentasi keong racun dicampur dengan molase effectif micro organisme bamboo akan mengeluarkan cairan yang kemudian cairan tersebut disaring. Hasil saringan ini sudah siap diaplikasikan untuk pupuk, dengan terlebih dahulu mencampur dengan air.
Verrsi I, Cara membuat Pupuk Organik ( Versi gerbangpertanian.com)

1. Bahan MOL keong mas :


1 kg keong mas yang masih hidup/ segar
1/2 buah maja, jika tidak ada bisa gunakan gula merah 2 ons.
2 liter air kelapa

2. Langkah Membuat MOL keong Mas :
Keongmas ditumbuk hingga halus lalu masukkan dalam jerigen.
Masukkan buah maja/ gula jawa yang telah dihaluskan.
Masukkan 2 liter air kelapa.
Kocok-kocok hingga campur.
Buka sebentar setiap pagi tutup jeligennya.
Setelah 15 hari siap digunakan

3. Cara menggunakan MOL keong mas :

Untuk pengomposan, campurkan 1 bgian MOL keong mas dengan 5 liter air tawar dan tambahkan 1 ons gula merah. Siramkan pada bahan organik yang akan dibuat kompos.
Campurkan 1 liter MOL keong mas dalam 1 tangki semprot. Semprotkan pada seluruh bagian tanaman dan anah disekitar perakaran tanaman. Jangan lupa nyemprotnya pagi atau sore hari.
Untuk semakin menyuburkan tanman, MOL keong mas juga boleh dicampur dengan MOL rebung bambu yang maspary tulis kemarin atau MOL-MOL yang lain.
Versi II, Formula Hadi Prasetyo, PPL BKPP Kutai Timur (Sinar Tani Edisi 4-10 Juli 2012

1. Bahan-bahan:
Keong mas yang masih hidup (1 kg).
Air cucian beras (4 liter).
Air Kelapa (2 liter).
Gula merah/Molase (400 g/400 ml).
Aktifator (160 ml)

2. Alat
Ember plastik (vol. 20 liter), 1 buah.
Botol air mineral (vol. 1 liter), 1 buah.
Selang plastik kecil, ½ meter.
Alat penumbuk, 1 buah.
Saringan/kain bersih, 1 pasang

3. Cara membuat:
Ambil air cucian beras dan campurkan dengan aktifator. Endapkan semalam.
Tumbuk keong mas yang masih hidup sampai lembut.
Encerkan gula merah/molase, campur dengan air bersih dan air kelapa dalam satu wadah.
Campurkan semua bahan menjadi satu, aduk hingga merata.
Tutup rapat ember dengan plastik dan diikat. Bagian atas diberi lubang sesuai ukuran selang plastik, kemudian masukan selang ke lubang tersebut.
Hubungkan selang tersebut dengan botol air kemasan yang telah diisi air setengahnya.
Tunggu proses fermentasi selama ± 10-15 hari.
Pembuatan dinilai berhasil jika hasil fermentasi mengeluarkan bau harum yang khas.


Membuat pupuk organik dari keong mas, selain mudah juga murah. Yang lebih penting lagi adalah mewujudkan pertania yang sehat dan hasil yang melimpah. Sukses Pertanian Indonesia.
Sumber:
1. http://www.marketing.co.id/

Saturday, April 20, 2013

BUDIDAYA TANAMAN KENTANG DAN LAHAN YANG COCOK


Pohon kentang

Penyebab kualitas kentang lokal lebih rendah dibanding dengan kentang impor salah satunya karena kesalahan dalam pola tanam dan penggunaan obat-obatan tanaman. Disamping kualitas yang rendah, produktivitas kentangpun juga ikut rendah. Ada solusi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan mutu kentang, khususnya di wilayah dataran tinggi dieng, yakni dengan perbaikan pola tanam dan sapta usaha tani. 

Dari solusi tersebut ada dua manfaat sekaligus yang bisa diperoleh, yakni berbudidaya kentang secara baik dan benar serta petani bertanam dengan ramah lingkungan. 

Hal tersebut tentunya sejalan dengan program pemerintah, yakni pembangunan berwawasan lingkungan melalui upaya konservasi lahan. Perbaikan pola tanam dilakukan dengan melakukan penyelingan tanaman, seperti kentang misalnya, empat bulan pertama ditanam kentang, berikutnya ditanam tanaman sayur lain, seperti kobis, daun bawang, seledri dan sayuran lain yang memiliki nilai ekonomis. Jadi dalam satu tahun penanaman kentang dilakukan cukup satu kali.

Sistem pola tanam seperti ini dikandung maksud untuk memutus rantai penyakit tanaman yang bisa menyerang tanaman kentang. Selama ini diduga banyak hama penyakit yang menyerang tanaman kentang, sehingga banyak petani yang memakai obat-obatan tanaman seperti pestisida di atas ambang normal, apalagi jika di musim hujan. Peningkatan penggunaan pestisida tersebut berdampak pada kurang bagusnya mutu kentang.

Untuk penggunaan benih yang bersertifikat saat ini baru terpenuhi sekitar 15 persen, hal ini disebabkan karena jumlah benih ersertifikat masih terbatas. Saat ini stok benih tersebut diambil dari kledung, lembang dan beberapa kelompok petani penghasil benih. Kekurangan benih tidak hanya dialami di wonosobo, tapi di jawa dan juga di indonesia. Pemerintah telah berupaya untuk mengatasi hal tersebut dengan menyekolahkan beberapa petani ke balai benih kentang di kledung, untuk tahun ini sebanyak lima petani mengikuti program tersebut selama kurang lebih satu bulan.

Kesalahan proses tanam petani selama ini ditengarai menjadi salah satu penyebab kurangnya kesuburan tanah. Berkurangnya kesuburan tanah dikarenakan semakin berkurangnya top soil atau lapisan humus. Saat ini rata-rata top soil yang ada di dieng hanya sekitar 10 – 20 cm, dimana idealnya adalah pada kedalaman minimal 30 cm. Top soil sendiri mempunyai peranan yang sangat penting, karena di lapisan ini terkonsentrasi kegiatan-kegiatan mikroorganisme yang secara alami mendekomposisi serasah atau tumpukan daun kering dan rerantingan pada permukaan tanah, yang pada akhirnya akan meningkatkan kesuburan tanah.

Salah satu kesalahan proses tanam yang dilakukan petani di dieng adalah banyak petani yang mengolah lahan pada kemiringan lebih dari 30 derajat. Aturannya adalah di bawah 30 derajad, karena jika menanam di atas 30 derajad berakibat cepat hilangnya lapisan humus atau top soil. Untuk mengembalikan kesuburan tanah secara alami tentunya membutuhkan waktu, tidak bisa secara instan dilakukan, sekalipun dengan penambahan pupuk-pupuk pabrikan, bahkan jika dilakukan penambahan pupuk fine compost sekalipun, tetap saja tidak serta merta kegiatan mikroorganisme menjadikan tanah kembali

Thursday, April 11, 2013

BEBERAPA TANAMAN YANG BERACUN UNTUK TERNAK


Beberapa jenis tanaman dapat mengakibatkan keracunan pada berbagai jenis ternak. Hal ini karena pada tanaman tersebut mengandung racun yang apabila dikonsumsi oleh ternak dapat memacu terjadinya keracunan bahkan dapat berakibat fatal yaitu kematian.


Beberapa jenis tanaman yang mengandung racun tersebut adalah:

1. Kacang Tanah
Kacang tanah atau bungkil kacang tanah sebagai limbah industri sering dimanfaatkan untuk makanan penguat bagi ternak, utamanya sapi dan babi. Kacang tanah atau bungkil kacang tanah dalam situasi tertentu dapat mengakibatkan keracunan akibat dari daya kerja aflatoksin. 

Dalam keadaan biasa pakan ternak dari bungkil kacang tanah ini adalah normal dan biasa diberikan, namun dalam situasi tertentu dapat menjadi racun karena kacang atau bungkil kacang tersebut telah ditumbuhi jamur Aspergillus flavus. Galur tertentu dari jamur tersebut dapat diproduksi toksin, terutama bila bungkil yang tersedia tidak betul-betul kering.

Hewan rentan terhadap racun dari jamur Aspergillus ini adalah sapi, babi, dan ayam, sedangkan domba termasuk lebih tahan. Hewan muda lebih rentan daripada hewan dewasa.

Gejala klinis akibat pengaruh dari racun jamur Aspergillus flavus pada kebanyakan hewan antara lain adalah kecepatan pertumbuhannya berkurang dan nafsu makan juga berkurang. Keracunan yang hebat dapat menyebabkan kekejangan dan kemudian hewan akan ambruk. 

Pedet yang keracunan dapat mengalami tenesmus dan buta. Pengaruh paling menonjol pada sapi dewasa yang sedang laktasi adalah penurunan produksi susu.

2. Lantana (Pohon bunga Telekan)
Lantana memiliki banyak spesies, tetapi yang paling banyak dijumpai adalah Lantana camara.
Lantana termasuk jenis tanaman perdu, berbatang kasar, bercabang banyak, permukaan daun kasar dan tepi daun bergerigi. Warna mahkota beragam, antara lain merah, kuning, ungu dan putih.

Lantana tumbuh di hampir setiap negara tropis dan dapat hidup di tanah yang sangat miskin hara, kering, tandus, dan berbatu. Lantana sering dipakai sebagai tanaman hias atau tanaman pagar halaman. Daun dan bunganya berbau langu, sehingga jika tidak terpaksa ternak tidak akan menyukainya.

Hewan yang rentan dan sering mnaglami keracunan lantana adalah sapi, terutama pada saat musim kering karena sulit menemukan tanaman hijauan lain di padang penggembalaan kecuali tanaman lantana. Sapi Bali, Brahman cross, dan sapi Brahman sangat rentan terhadap racun tanaman lantana ini.

Gejala klinis pada sapi yang keracunan lantana antara lain adalah jaundice yang berat, fotosensitisasi, dermatitis nekrotik berat terutama di bagian tubuh yang paling banyak terkena sinar matahari atau berwarna lebih pucat seperti pada cuping telinga, ponok, bagian atas moncong dan punggung. 

Ternak kehilangan nafsu makan, diare, gelisah, ambruk, dan akhirnya mati dalam beberapa hari dengan kondisi tubuh yang sangat kurus. Apabila makan tanaman lantana dalam jumlah banyak, maka sapi akan mati karena gastroenteritis sebelum terjadi fotosensitisasi.

3. Jarak (Ricinus communis)
Tanaman ini disebut juga Palma Christi, yang dapat meracuni darah. Tanaman ini ditamukan hampir disetiap daerah tropis. Tanaman ini termasuk jenis tanaman semak yang dapat tumbuh sampai pada ketinggian 3 meter.

Tanaman ini berdaun lebar dan memiliki 3 atau 5 jari. Bunganya kecil-kecil dan berwarna kuning. Bijinya bulat ada kalanya direndam atau direbus untuk dimakan orang bagi yang biasa memakannya.

Bila tidak ada perlakuan tertentu, biji-biji jarak ini dapat meracuni. Biji jarak ini dapat diperas dan menghasilkan minyak castro. Ampas dari biji jarak tersebut mengandung banyak substansi beracun karena mengandung toksalbumin yang disebut risin.

Gejala klinis pada sapi yang secara tidak sengaja makan pakanan yang tercampur bahan mengandung risin dapat mengalami kematian dengan gejala kejang-kejang.

4. Bakung (pohon bung lily)
Bakung termasuk dalam keluarga Liliaceae. Hampir semua jenis bakung adalah beracun dan tidak mudah dicerna. Tanaman jenis ini banyak tumbuh di padang penggembalaan sehingga secara tidak sengaja dapat termakan oleh ternak. Umbi bakung sering lebih banyak mengandung racun daripada bagian tanaman yang berada di atas tanah.

Hewan yang termasuk rentan adalah sapid an babi. Babi sering terkena racun bakung karena kebiasaannya makan umbi-umbian dengan cara menggali tanah menggunakan moncongnya.

Gejala klinis pada ternak yang keracunan bakung terlihat gejalanya bervariasi, tergantung banyaknya bakung yang dimakan. Glikosida atau alkaloid merupakan bahan pokok racun yang berakibat pada jantung dan sistem saraf. Bila hanya sebagian kecil yang termakan, maka akan terlihat gejala saraf. Tetapi bila sebagian besar termakan, maka yang timbul adalah gejala jantung sebelum sempat menunjukkan gejala saraf.

Sapi yang keracunan sering muntah-muntah, diare, dan kemudian mati karena berhentinya fungsi jantung. Pada uji pascamati yang sering terlihat adalah gastroenteritis.

5. Oleandra
Oleandra adalah jenis tanaman perdu yang sering ditemukan di pedesaan. Tanaman ini juga sering ditanam sebagai tanaman hias karena memiliki bunga yang indah.

Pohon oleandra dapat tumbuh tinggi mencapai 4 meter. Pada akarnya sering tumbuh tunas yang banyak dan bercabang. Bunganya berwarna merah-jambu yang terdapat pada akhir dari cabangnya.

Daunnya tebal berwarna hijau tua berbentuk seperti tombak (lanceolate), pucuknya runcing. Tulang-tulang daun terlihat jelas dan sangat beracun.

Gejala klinis yang dapat diamati pada sapi yang mengalami keracunan tanaman ini adalah kejang, diare, dan kolik. Pemeriksaan secara patologi anatomi menunjukkan gastroenteritis akut.

6. Ubi Kayu (Casava)
Ubi kayu, cassava atau singkong banyak ditanam di berbagai tempat di Indonesia. Ubi kayu banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan bagi masyarakat, bahkan di beberapa tempat manjadi bahan makanan pokok pengganti beras. Daun ubi kayu bercabang seperti jari berwarna hijau tua. Daun yang muda sering dimanfaatkan sebagai sayur.

Daun ubi kayu mengandung sianida yang beracun. Oleh karena itu jika akan dimanfaatkan untuk bahan sayur harus diolah dengan cara yang benar agar efek toksiknya hilang, misalnya dengan dipanaskan.

Kandungan sianida pada daun ubi kayu bervariasi, tergantung pada jenisnya. Daun ubi kayu yang segar memiliki kandungan sianida yang cukup banyak. Cara menetralisasi kandungan sianida tersebut dapat dilakukan dengan dijemur sebelum diberikan kepada ternak.

Hewan yang rentan adalah semua jenis ternak ruminansia termasuk sapi, kerbau, kambing, dan domba. Oleh karena itu daun ubi kayu yang akan diberikan kepada ternak harus dipanaskan terlebih dahulu di bawah terik matahari hingga layu untuk menetralisasi kandungan racunnya.

Gajala klinis akibat keracunan daun ubi kayu ini terutama pada sapi adalah gejala kejang-kejang, mulut keluar buih keputihan, mata menjadi juling, pernafasan sesak, denyut jantung meningkat, dan bila mengalami keracunan yang berat dapat mengakibatkan kematian.