Monday, July 1, 2013

ANEKA KHASIAT DALAM KULIT BUAG DAN SAYURAN

Kulit buah atau sayuran memang tidak selezat daging buahnya. Rasanya bisa pahit, asam, atau hambar, sehingga orang cenderung membuangnya. Padahal, pada kulit inilah terletak nutrisi yang kerap disebut mampu melawan kanker, meningkatkan energi, dan lain sebagainya itu.

Dr Marilyn Glenville, mantan presiden Food and Health Forum di Royal Society of ­Medicine, mengatakan bahwa semua buah dan sayuran memiliki suatu bio-sinergi, yang artinya manfaat nutrisi dari masing-masing bagian diperkuat oleh yang lain. Di bawah ini, ada beberapa buah dan sayuran yang bisa Anda makan bersama kulitnya.

Kulit buah kiwi yang berambut mengandung antioksidan yang tinggi, yang diyakini mampu berfungsi sebagai antikanker, antiperadangan, dan antialergen, demikian menurut Dr Glenville. "Kulitnya mengandung antioksidan tiga kali lebih banyak daripada dagingnya. Selain itu juga bisa melawan bakteri seperti Staphylococcus dan E-coli, yang membuat Anda keracunan makanan," katanya.

Cara memakannya: Jika kulit buah kiwi terasa terlalu asam, pilih buah kiwi jenis gold (bisa Anda beli di hipermarket) yang rasanya memang manis. Kulitnya juga tak terlalu berbulu, tapi menyediakan manfaat yang sama. Masukkan kulitnya juga jika Anda membuat jus kiwi.

Tentu, Anda tidak harus mengunyah kulit nanas yang berduri itu. Yang harus Anda makan adalah bagian tengahnya yang keras. Nenas sendiri kaya akan serat dan vitamin C, dan manfaat utamanya terletak pada enzimnya yang disebut bromelain. Bromelain berfungsi memecahkan makanan, dan jaringan mati yang tinggal di dalam sistem pencernaan, sehingga melindungi perut.

"Bagian pusat dari nenas ini mengandung konsentrasi bromelain dua kali lipat dari daging buahnya," papar Dr Glenville.

Cara memakannya: Tekan dan hancurkan bagian tengahnya, dan tambahkan perasannya ke dalam smoothies. Daging buahnya bisa ditambahkan ke dalam sup atau kaserol untuk memberikan lebih banyak serat.

Yang membuat brokoli menjadi berat ketika ditimbang adalah tangkainya. Tangkai ini biasanya dibuang, padahal tangkai itulah alasan kita mengonsumsi brokoli. "Tangkai brokoli mungkin tidak terlalu terasa seperti bunganya, tapi memiliki kandungan kalsium dan vitamin C yang lebih tinggi," kata Dr Glenville. Tangkai brokoli juga kaya serat larut, sehingga Anda akan merasa kenyang lebih lama.

Cara memakannya: Potong-potong tangkai brokoli menjadi seukuran kentang goreng, lalu tumis atau rebus bersama bahan makanan lain.

Para peneliti di Taiwan ­mendapati bahwa ekstrak kulit pisang bisa menghapus depresi karena kaya akan serotonin, senyawa kimia yang menyeimbangkan mood. Kulit pisang juga baik untuk mata, karena mengandung antioksidan lutein yang melindungi sel-sel mata dari paparan sinar ultraviolet. Hal inilah yang bisa menyebabkan katarak.

Cara memakannya: Tim peneliti Taiwan ini mengajurkan untuk merebus kulit pisang selama 10 menit, lalu meminum air rebusannya yang sudah dingin. Atau, masukkan ke dalam juicer, lalu minum jusnya.

Bawang putih
Menurut para peneliti dari Jepang, kulit bawang putih mengandung enam senyawa antioksidan yang berlainan. Mengupas bawang putih bisa menghilangkan antioksidan phenylpropanoid yang membantu melawan proses penuaan dan melindungi jantung.

Cara memakannya: Tuangkan minyak zaitun di atas setengah atau seluruh siung bawang putih, lalu taruh di atas baki bersamaan dengan ayam atau sayuran yang sedang Anda panggang.

Buah-buahan sitrus
Kulit jeruk dan tangerine memiliki jenis antioksidan kuat yang disebut super-flavonoids, yang bisa mengurangi kadar kolesterol jahat secara signifikan, tanpa menurunkan kadar kolesterol baiknya. Antioksidan yang didapatkan dari kulit 20 kali lebih kuat daripada yang didapat dari jus.

"Hal yang sama berlaku untuk semua buah-buahan sitrus," kata Dr Glenville. "Sumsumnya yang berwarna putih mengandung pektin yang tinggi, yaitu komponen serat diet yang diketahui mampu menurunkan kolesterol dan melawannya dengan bakteri baik."

Cara memakannya: Tambahkan parutan kulit buah sitrus ke kembang kol, keju, atau cake dan muffin. Atau, masukkan seluruh buah yang belum dikupas ke dalam juicer sehingga Anda mendapatkan seluruh manfaatnya.

Kentang
Kebanyakan orang tahu bahwa kulit kentang itu sehat, tapi tak banyak yang tahu alasannya. Kulit adalah sumber nutrisi dari kentang. Sekepal kulit kentang menyediakan separuh dari asupan harian serat larut, potasium, zat besi, fosfor, seng, dan vitamin C. "Per pon-nya, kentang mengandung lebih banyak vitamin C daripada jeruk, sehingga baik untuk siapa saja yang ingin mencegah flu," kata Dr Glenville.

Cara memakannya: Jadikan kentang panggang berikut kulitnya, rebus dan tumbuk dengan kulitnya menjadi kentang tumbuk, atau potong-potong menjadi wedges, celupkan ke dalam sedikit minyak zaitun, lalu panggang sebagai potato wedges. Kompas

Tips Panduan Pengolahan Lahan untuk Tanaman Kembang Kol

Tips Panduan Pengolahan Lahan untuk Tanaman Kembang Kol

Pengolahan Lahan untuk tanaman kembang kol merupakan syarat penting dalam sumberdaya alam fisik dalam usahatani. Pendayagunaan lahan atau tanah memerlukan pengelolaan yang tepat dan sejauh mungkin mencegah dan mengurangi kerusakan sehingga dapat menjamin kelestarian sumber daya alam tersebut untuk kepentingan generasi yang akan datang. Pada sistem lingkungan tanah, usaha-usaha yang perlu dikerjakan ialah rehabilitasi, pengawetan, perencanaan dan pendayagunaan tanah yang optimum ( Soerianegara, 1977 ).

Apabila pengolahan tanah secara lestari telah dikuasai masyarakat pedesaan, maka tidak akan ada kritis mata pencaharian yang menyebabkan tanah menjadi kritis. Pengendalian teknologi pengolahan tanah secara lestari adalah sederhana, tidak memerlukan peralatan serba modern (canggih) dan pendidikan tinggi. Azas pengelolaan lahan adalah menciptakan lingkungan perakaran yang dalam, mempertahankan kemampuan tanah menyimpan air dan mengedarkan udara, tindakan terakhir adalah memperkaya tanah dengan zat hara tersedia untuk akar. Zat hara tersebut didapat dari pupuk buatan, pupuk kandang (kotoran ternak) dan mulsa atau pupuk hijau. ©2004 Digitized by USU digital library 1
Tujuan ; Pengolahan tanah adalah agar tanah jadi gembur, subur banyak mengandung/menyimpan unsur hara, mudah untuk pertumbuhan tanaman serta mudah untuk berkembangnya perakaran tanaman.

Proses pengolahan; Tanah yang sudah kosong kering (tanpa ada tanaman) diolah pada kondisi kering sebelum musim hujan dengan cara dicangkul, dibajak/traktor, atau dibalik menggunakan garpu terlihat bongkahan-bongkahan tanah. Untuk tanah kering yang masih banyak gulma kita perlu melakukan pembersihan gulma dengan cara dibabat, dicabut sehingga bebas dari tanaman/gulma, selanjutnya tanah diolah dengan dicangkul atau ditraktor kemudian diberi bahan organik (pupuk hijau, pupuk kandang, kompos) sebanyak 12,5-17,5 t/ha. 
Setelah ada hujan/musim hujan tiba tanah di di olah kembali dengan cara dibajak ulang, digaru untuk menghancurkan bongkahan-bongkahan tanah hingga rata. Atau dapat pula dilakukan secara olah tanah sempurna (OTS), olah tanah minimum (OTM), Tanah yang tidak terkena traktor/bajak dincangkul selanjutnya di buat bedengan dan parit serta pematang untuk batas petakan.

Tanah dibiarkan + 1 minggu, dibuat bedengan dengan lebar 120 -180 cm
Diantara bedengan pertanaman dibuat saluran air (canal) dengan lebar 40-50 cm dan kedalaman 50 cm. Apabila pH tanah kurang dari 5,6 diberi Dolomit dosis + 1,5 ton/ha disebarkan di atas bedengan dan diaduk rata dengan tanah lalu biarkan 1 minggu. Kemudian pupuk kandang diaduk dengan tanah dan permukaan guludan dibuat rata. Pada musim penghujan permukaan guludan dibuat agak lebih tinggi agar tidak terendam air hujan. Tinggi guludan pada musim kemarau 30 cm dan musim hujan 40 cm.

Penulis : Dalmadi
Sumber :
http : // w.w.w smaall.erab.com,
http : // w.w.w. duniacybor.com

Perlunya Pemahaman Petani Menanam Cabe

Perlunya Pemahaman Petani Menanam Cabe

Tidak stabilnya harga cabe dipasaran yang berdampak terjadinya keresahan di masyarakat, diakibatakan kurangnya pemahaman petani tentang cara menanam yang benar. Seperti halnya, petani masih bergantung pada pola tanam berdasarkan ketergantungan musim, dimana petani lebih memilih tanaman lain saat musim hujan tiba, belum lagi cara penanaman dan perawatan yang kurang maksimal. Sementara tanaman cabe akan menghasilkan buah maksimal jika saja petani malakukan polah tanam yang profesional. Untuk mengembangkan budidaya cabe diluar musim perlu diterapkan teknologi budidaya yang tepat dan biasanya berbeda dengan teknologi budidaya pada masa tanam biasa. Dengan penerapan teknologi budidaya cabe merah yang ditanam pada musim penghujan diharapkan dapat dihasilkan cabe yang tidak kalah produksi dan kualitasnya dibanding produksi cabe yang pada ditanam pada musim kemarau.

Berikut tips menanam cabe: Media pembibitan hendaknya disiapkan berupa campuran tanah subur dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. Pembibitan dapat dilakukan pada kantong plastic atau tempat pembibitan khusus.

Tempat pembibitan hendaknya ternaungi. Penyiraman dilakukan setiap hari atau jika diperlukan; Umur 25 – 30 hari bibit siap ditanam dilapangan.

Teknologi Penyiapan Lahan: Tanah dibersihkan dan dicangkul, hendaknya dibuat bedengan berukuran lebar 120 cm, tinggi 40 – 50 cm, dengan jarak antar bedengan 50 cm. Jika pH rendah dapat diberi kapur dolomit sebanyak ±2 ton/ha, bersamaan dengan pemberian pupuk kandang dan pupuk dasar pada saat pengolahan tanah tahap akhir. Sebagai pupuk dasar dapat diberikan pupuk Urea 300 kg/Ha, SP36 250–300 kg/Ha, KCl 250 kg/Ha, diaduk secara rata. Siram seluruh permukaan bedengan dengan air hingga lembab, kemudian tutup dengan mulsa plastik.

Pemasangan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP): Mulsa plastik yang digunakan adalah 12 roll/Ha. Pemasangan mulsa dilakukan pada saat terik matahari agar memeudahkan plastik mengembang dan mudah ditarik. MPHP ditebarkan diatas bedengan, warna perak menghadap ke tas den warna hitam menghadap ke tanah. Ttepi-tepi MPHP ditarik kuat ke arah bawah hingga terasa mengembang. Jepit tepi plastik dengan bilah bambu tipis sepanjang 40 cm disepanjang tepinya pada setiap jarak 40–50 cm.

Penanaman: Lubang tanam dibuat dengan jarak tanam 60 cm dalam barisan dan 70 – 80 cm antar barisan. Bibit yang telah disiapkan sebaiknya ditanam pada pagi atau sore hari. Pemeliharaan: Penyulaman dilakukan paling lambat 1 minggu untuk mengganti bibit yang mati atau sakit. Pengairan diberikan dengan cara di leb atau disiram per lubang. Untuk menopang berdirinya tanaman dapat diberi ajir setinggi 125 cm. Tunas–tunas air yang tumbuh di bawah cabang utama dipangkas.

Pengendalian hama: Pengendalian lalat buah yang sering merusak buah cabe dapat dilakukan dengan memasang perangkap berisi methyl eugenol. Pengendalian hama dan penyakit lainnya dilakukan dengan menggunakan pestisida sesuai kebutuhan dengan dosis yang sesuai petunjuk.

Trik panen dan pasca panen: Umur 60–70 hari setelah tanam, cabe dapat dipanen. Buah yang dipanen sudah berwarna merah. Kemasan untuk pengangkutan cabe diberi lubang angin yang cukup atau menggunakan karung jala. Tempat penyimpanan harus kering, sejuk dan cukup sirkulasi udara.

Salah satu pemicu fluktuasi harga cabe yang tidak stabil adalah karena luasan tanam yang tidak stabil. Ketika musim tanam para petani berbondong-bondong untuk menanam cabe sehingga luasan tanam cabe menjadi tak terkendali. Hal ini akan menyebabkan produksi cabe melimpah dan harga anjlok. Padahan kebutuhan akan cabe lebih cenderung stabil. Begitu pula sebaliknya, jika diluar musim hanya sedikit petani yang tanam sehingga stok pasar sedikit yang mengakibatkan harga melonjak.

Salah satu cara untuk menstabilkan harga cabe adalah dengan mencoba memperluas tanam disaat diluar musim. Namun dengan cara tersebut bukan berarti tanpa kendala dalam budidayanya. Budidaya cabe di luar musim biasanya akan mendapat hambatan yang lebih besar.

Dengan pangaturan pola tanam berdasarkan kuota luas tanam, atau membatasi produksi pada masa bertanam normal, dan diikuti dengan melakukan budidaya diluar musim, diharapkan produksi dan harga cabe di pasar akan lebih stabil.

Untuk mengembangkan budidaya cabe diluar musim perlu diterapkan teknologi budidaya yang tepat dan biasanya berbeda dengan teknologi budidaya pada masa tanam biasa. Dengan penerapan teknologi budidaya cabe merah yang ditanam pada musim penghujan diharapkan dapat dihasilkan cabe yang tidak kalah produksi dan kualitasnya dibanding produksi cabe yang pada ditanam pada musim kemarau. (ucenk husain)

Panduan Pemupukan Tanaman Jeruk Keprok

Panduan Pemupukan Tanaman Jeruk Keprok
Tanaman kembang kol dapat memberikan hasil yang cukup tinggi apabila diikuti dengan penerapan teknologi yang memadahi dan mengenal lokasi tanam, paham iklim tanam, paham kesediaan air dalam penggunaannya, topografi dan karakteristik tanah yang tepat untuk budidaya, potenis lahan pertanian 5 - 10 tahun terakhir daerah masing - masing dan paham terhadap infrastruktur daerahnya.

Pemupukan dimulai dari pengolahan tanah, pesemaian hingga pemeliharaan tanaman. Penggunaan pupuk organik yang terdiri dari ; pupuk kandang berupa kotoran ayam, kuda, domba atau kompos sebaiknya yang telah matang (siap pakai), adapun dosis pupuk organik yang ditaburkan sebanyak 10 sampai 20 ton/ha. Selanjutnya ditaburkan hingga rata lalu dibajak/dicangkul kembali hingga tercampur dengan baik/rata dan kemudian dibuat bedengan sesuai dengan ukuran yang direkomendasikan. Setelah tebentuk bedengan lalu ditutup menggunakan Mulsa Hitam Perak dan setelah rapi kemudian didiamkan kurang lebih satu minggu baru lahan siap untuk ditanami .

Adapun pemberian pupuk NPK, Urea, SP 36 sebagai pupuk tambahan, memberikan pupuk tambahan/susulan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan menjamin pertumbuhan tanaman secara optimal sehingga menghasilkan tanaman yang bermutu baik.

Jenis Pupuk, Hari Setelah Tanam antara lain adalah;
  • Dosis pemberian pupuk NPK (16-16) pada umur 5 HST dengan berat NPK 1 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol. 
  • Dosis pemberian pupuk NPK (16-16) pada umur 8 HST dengan berat NPK 2 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol
  • Dosis pemberian pupuk NPK (16-16) pada umur 11 HST dengan berat NPK 3 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol
  • Dosis pemberian pupuk NPK (16-16) pada umur 14 HST dengan berat NPK 4 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol
  • Dosis pemberian pupuk NPK (16-16) pada umur 19 HST dengan berat NPK 10 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol
  • Dosis pemberian pupuk NPK (16-16) pada umur 30 HST dengan berat NPK 10 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol
  • Dosis pemberian pupuk Urea pada umur 5 HST dengan berat NPK 1 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol. 
  • Dosis pemberian pupuk Urea pada umur 8 HST dengan berat NPK 2 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol
  • Dosis pemberian pupuk Urea pada umur 11 HST dengan berat NPK 3 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol
  • Dosis pemberian pupuk Urea pada umur 14 HST dengan berat NPK 4 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol
  • Dosis pemberian pupuk Urea pada umur 19 HST dengan berat NPK 10 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol
  • Dosis pemberian pupuk Urea pada umur 30 HST dengan berat NPK 10 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol
  • - Dosis pemberian pupuk SP 36 pada umur 5 HST dengan berat NPK 1 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol. 
  • - Dosis pemberian pupuk SP 36 pada umur 8 HST dengan berat NPK 2 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol
  • Dosis pemberian pupuk SP 36 pada umur 11 HST dengan berat NPK 3 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol
  • Dosis pemberian pupuk SP 36 pada umur 14 HST dengan berat NPK 4 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol
  • - Dosis pemberian pupuk SP 36 pada umur 19 HST dengan berat NPK 10 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol
  • Dosis pemberian pupuk SP 36 pada umur 30 HST dengan berat NPK 10 0ns dicampur dengan 10 liter air yang dapat disemprotkan sebanyak 100 batang tanaman kembang kol
  • contoh dosis dan waktu pemberian (HST) pupuk susulan I (5 HST) NPK 16-16, Urea, SP 36 sebanyak 1 ons dengan 10 liter air untuk 100 pohon selanjutnya baru disiramkan atau ditanam kedalam sisi-sisi tanaman dengan jarak 5 - 6 Cm/5 - 10 Cm dari tanaman, adapun tahab berikutnya dilakukan yang sama.
Untuk mengetahui kebutuhan pupuk (jenis maupun dosis) yang tepat sesuai kondisi setempat sebaiknya dilakukan analisa hara tanah.
Ditulis Oleh: Dalmadi BBP2TP Bogor 
Sumber: Bacaan Ditjen Horti SOP Kembang Kol Dataran Rendah 2009

Panduan dan Tips Budidaya Jamur Tiram

Panduan dan Tips Budidaya Jamur Tiram
Sumber Gambar: www.jamurpedia.com

Jamur tiram merupakan salah satu jenis jamur yang cukup mudah dibudidayakan. Penyesuaian terhadap kondisi tidaklah terlalu sulit. Usaha jamur tiram mudah dijumpai di mana-mana dan telah banyak diusahakan dalam skala kecil/rumah tangga, baik hanya mengusahakan pembiakan bibitnya dan kemudian menjualnya atau mulai membibitkan hingga membudidayakannya.

1. Persiapan bibit
Untuk mendapatkan produk panen yang baik diperlukan bibit yang baik, dan perlakuan selama masa pemeliharaan. Ada dua cara untuk memperoleh bibit jamur tiram, yakni dengan membuat sendiri melalui pembiakan bibit murni untuk mendapatkan bibit F1 atau dengan membeli bibit F2, F3, atau F4 dari pembudidaya atau instansi penyedia bibit.

2. Tahap budidaya
Untuk budidaya digunakan Bibit F4. Tahapan dalam budidaya jamur tiram di antaranya adalah sebagai berikut.

a. Menyiapkan media tanam. Media tanam yang bisa digunakan sebagai media tumbuh jamur tiram adalah kombinasi dari serbuk gergaji kayu (80%), bekatul (10-15%), kapur CaCO3 (3%), dan air secukupnya (kandungan 40-60%).

b. Fermentasi media tanam. Kegiatan ini penting dilakukan sebelum media digunakan untuk menanam jamur. Caranya media tersebut didiamkan selama 5-10 hari atau disesuaikan dengan kondisi bahan. Tujuannya adalah agar terjadi proses pelapukan/pengomposan pada media.

Selama proses fermentasi, suhu media akan meningkat hingga mencapai 70oC, dan selama itu pula dilakukan pembalikan media setiap harinya agar proses pelapukan bisa merata di semua bagian media. Selain mempercepat pelapukan, fermentasi juga bertujuan untuk mematikan jamur liar yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur tiram. Media yang siap digunakan ditandai dengan berubahnya warna media menjadi cokelat atau kehitaman.

3. Sterilisasi
Media tanam yang telah difermentasi dapat dimasukkan ke dalam kantong plastik jenis polipropilen. Media tersebut kemudian dipadatkan hingga berbentuk seperti botol (baglog). Selanjutnya, pada bagian atas plastik (leher kantong plastik) dipasang ring, disumbat menggunakan kapas, dan dipasang penutup baglog agar air tidak masuk ke dalam kantong pada saat pengukusan.

Setelah baglog siap, proses sterilisasi dapat dilakukan, yakni dengan cara mengukusnya. Wadah pengukus paling sederhana yang dapat digunakan adalah drum. Satu drum dapat memuat sekitar 60 baglog. Prinsip kerja sterilisasi adalah memanfaatkan panas uap air pada suhu 95o-110oC dalam waktu 8-10 jam. Ketika suhu pengukusan telah mencapai 100oC, pertahankan selama 5 jam. Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu 100oC adalah 3 jam, tergantung dari kestabilan api di tungku. Selanjutnya, wadah pengukus dibuka dan didiamkan selama 5 jam agar suhu media tanam dalam baglog kembali normal.

4. Inokulasi
Baglog yang telah disterilisasi sebaiknya dipindahkan ke tempat inokulasi dan didiamkan selama 24 jam untuk mengembalikannya ke suhu normal. Ruangan inokulasi harus dalam keadaan steril dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Hal ini penting untuk meminimalisir tercemarnya baglog dari spora patogen atau bakteri. Berikut tahap-tahap pengisian bibit ke dalam baglog:

- Ambil botol bibit F3, lalu semprotkan alkohol ke botol tersebut. Panaskan sebentar mulut botol di atas api spiritus hingga sebagian kapas terbakar, lalu matikan api.
- Setelah kapas penyumbat botol bibit dibuka, aduk-aduk menggunakan kawat yang sudah disterilkan di atas api.
- Masukkan bibit dari botol ke baglog hingga leher baglog penuh, lalu tutup kembali dengan kapas. Setiap baglog diisi sekitar 10 g bibit.

5. Inkubasi
Inkubasi atau pemeraman bertujuan agar bibit yang telah diinokulasi segera ditumbuhi miselium. Untuk menunjang pertumbuhan miselium pada jamur tiram, idealnya ruang inkubasi memiliki suhu 24o-29oC, kelembapan 90-100%, cahaya 500-1000 lux, dan sirkulasi udara 1-2 jam. Setelah 15-30 hari masa inkubasi, biasanya miselium sudah tumbuh hingga separuh bagian baglog. Bila miselium telah memenuhi baglog, pertanda baglog siap dipindahkan ke rumah kumbung untuk dibudidayakan hingga proses pemanenan. Namun, bila dalam waktu 1 bulan dari masa inkubasi baglog tidak ditumbuhi miselium, berarti proses inokulasi yang dilakukan tidak berhasil.

Penulis: Enisar Sangun, Penyuluh Pertanian Madya (e_sangun@yahoo.co.id, 081386333549). Sumber: Yohana IS dan C Saparino.(2010). Usaha 6 Jenis Jamur Skala Rumah Tangga. Jakarta: Percetakan Berkat Jaya.

Panduan Budidaya Jamur Kuping

Sumber Gambar: dewijamur.com
Panduan Budidaya Jamur Kuping
Jamur kuping dapat ditanam di daerah beriklim dingin sampai panas atau bahkan di daerah yang memiliki 4 musim. Jamur ini dapat hidup pada suhu antara 120 - 350 C, dan suhu idealnya 200 - 300 C. Kelembapan lingkungan tumbuh yang dibutuhkan jamur kuping sekitar 80 - 90%.

Jamur kuping sesuai untuk usaha skala rumah tangga karena prospeknya cukup baik dan harga jualnya relatif mahal. Beberapa jenis jamur kuping yang sering dibudidayakan di Indonesia biasanya dibedakan berdasarkan warna tubuh buahnya. Pertama, jamur kuping merah, red jelly, kikurage (Auricularia yudae). Cirinya tubuh buah berwarna kemerahan dengan ukuran lebih besar dibandingkan jamur kuping hitam. Kedua, jamur kuping hitam, black jelly, arage kikurage (Auricularia polytricha), tubuh buahnya berwarna keunguan atau hitam dengan lebar 6-10 cm. Ketiga, jamur kuping agar, white jelly, siro kikurage (Tremella fuciformis), tubuh buahnya berwarna putih dan ukurannnya lebih kecil dan tipis.

1. Persiapan bibit
Agar hasil panen optimal, gunakan bibit jamur kuping yang bermutu. Untuk usaha budidaya skala kecil cukup membeli bibit F4 yang siap pakai.

2. Tahap budidaya
Untuk budidaya jamur kuping menggunakan baglog tahapannya adalah sebagai berikut.

a. Menyiapkan media tanam, yaitu serbuk gergaji kayu yang telah diayak 85-90%, bekatul 10-15%, kapur CaCO3 1-2%, dan air secukupnya. Campur serbuk kayu, kapur, dan bekatul hingga rata atau sampai diperoleh kadar air media sekitar 50-70%.

b. Fermentasi media tanam, bertujuan untuk mendapatkan media yang ideal bagi pertumbuhan jamur kuping. Caranya media tersebut didiamkan selama 3-5 hari. Selama proses fermentasi, suhu media akan meningkat hingga mencapai 70oC. Agar fermentasi merata maka perlu dilakukan pembalikan media setiap 2 -3 hari. Media yang siap digunakan ditandai dengan berubahnya warna media menjadi cokelat atau kehitaman.

c. Pembuatan baglog. Media tanam hasil fermentasi dimasukkan ke dalam kantong plastik tahan panas berkapasitas 1 kg, berukuran 30 x 20 cm dengan tebal 0,5 mm hingga setinggi 20 cm. Media tersebut kemudian dipadatkan menggunakan pengepres atau dipikul-pukul menggunakan botol. Pemadatan dilakukan hingga bagian bawah plastik rata dan menyerupai botol (baglog). Bentuk leher plastik mengerucut agar mudah dimasukkan ring. Selanjutnya tutup mulut botol dengan kapas dan pasang penutup baglog dengan plastik penutup. Tujuannnya agar pada saat sterilisasi/pengukusan air tidak mudah masuk ke dalam baglog.

d. Sterilisasi. Prinsip sterilisasi pada media tanam jamur adalah menguapi media tanam agar mikroba liar mati sehingga media terbebas dari kontaminasi.Sterilisasi dilakukan pada suhu 950 - 1200 C dalam waktu 6-8 jam. Baglog yang telah disteriisasi kemudian didiamkan di ruang inokulasi hingga suhunya kembali normal. 

e. Inokulasi. Bila suhu pada baglog telah kebali normal, lakukan inokulasi bibit/penanaman bibit pada masing-masing baglog. Selama proses inolukasi, ruangan dan proses kerjanya harus selalu dalam keadaan steril dan sirkulasi udara dalam ruangan berlangsung baik. Metode inokulasi yang perlu dilaksanakan adalah sbb:
  • Semparot kedua telapak tangan dengan alkohol 70%.
  • Panaskan stik besi atau kawat dengan membakarnya di atas api spiritus, lalu dinginkan.
  • Semprot botol bibit dengan alkohol agar steril, buka tutup kapas baglog di atas api spiritus untuk mengurangi kontaminasi, kemudian masukkan stik/kawat ke dalam botol bibit. 
  • Lepas penutup baglog, masukkan bibit ke dalam mulut baglog, goyang cincin agar bibit menyebar kepermukaan baglog, kemudian tutup kembali baglog dengan kapas. 
f. Inkubasi. Agar miselium jamur kuping segeraq tumbuh, lakukan inkubasi baglog pada suhu 280 - 350 C, kelembapan 80%, dan cahaya lampu TL 60 watt. Inkubasi jamur kuping dinyatakan selesai setelah 4 - 8 minggu, atau ditandai dengan pertumbuhan miselium berwarna putih yang memenuhi baglog. Jika lebih dari 5 minggu masa inkubasi baglog tidak ada pertumbuhan miselium, pertanda inokulasi yang dilakukan gagal.

3. Panen.
Waku panen jamur kuping yang tepat adalah bila jamur kuping telah tumbuh maksimal yang ditandai dengan gelombang yang tidak rata di tepi jamur. Ini dicapai pada umur 3-4 minggu sejak pembentukan calon tubuh buah. Dalam satu periode penanaman selama 5-6 bulan, jamur kuping dapat dipanen 4 - 6 kali. Panen jamur kuping dilakukan dengan cara mencabut jamur kuping beserta akarnya. Akar yang tidak tercabut bisa mengganggu pertumbuhan jamur berikutnya. Untuk itu bila ada yang tertinggal, pastikan untuk segera mengeluarkannya dari baglog.

Penulis: Enisar Sangun, Penyuluh Pertanian Madya (e_sangun@yahoo.co.id, 081386333549). Sumber: Yohana IS dan C Saparino.(2010). Usaha 6 Jenis Jamur Skala Rumah Tangga. Jakarta: Percetakan berkat Jaya.

TIPS MERAWaT TANAMAN CABE DI MUSIM HUJAN


Cabe termasuk tanaman yang tidak tahan kekeringan, tetapi juga tidak tahan terhadap genangan air. Air diperlukan dalam jumlah yang cukup, tidak berlebihan atau kekurangan. Untuk mengantisipasi agar tanaman cabe tidak terancam gagal akibat kelebihan air pada musim hujan, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :

1. Perbaikan saluran pembuangan air. Agar air tidak tergenang di sekitar pertanaman cabe pada saat musim hujan, maka saluran pembuangan air perlu diperbaiki, sehingga air dapat mengalir dengan lancar. Saluran pembuangan air yang tidak lancar juga dapat memicu berkembangnya hama dan penyakit tanaman cabe.

2. Pembuatan bedengan tanaman yang lebih tinggi. Pada musim kemarau tinggi bedengan biasanya cukup sampai dengan 50 cm, namun pada saat musim hujan bedengan tanaman perlu dibuat lebih tinggi. Tinggi bedengan dapat dibuat menjadi 60 – 70 cm. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kelembaban tanah akibat banyaknya air di musim hujan.

3. Pengaturan jarak tanam yang lebih lebar. Petani yang sudah berpengalaman pada musim hujan, biasanya mengatur jarak tanam menjadi 60 x 70 cm dengan pola zig-zag / segitiga. Dengan jarak tanam yang lebar cahaya matahari dapat leluasa masuk ke sekitar tanaman cabe, sehingga kelembaban udara yang tinggi dapat dikurangi. Meskipun jumlah populasi tanaman cabe menjadi berkurang, namun dapat mempermudah pemeliharaan tanaman dan memberikan iklim mikro yang lebih baik.

4. Penggunaan mulsa plastik hitam perak. Untuk mengontrol kelembaban tanah serta mengurangi penyebaran penyakit karena percikan tanah yang terkena hujan maka diupayakan melalui penggunaan mulsa plastik hitam perak.

5. Pemantauan perkembangan OPT secara intensif. Perkembangan OPT baik hama maupun penyakit sangat cepat pada musim hujan karena cuaca yang mendukung perkembangannya. Oleh karena itu aturlah pemantauan perkembangan OPT ini sejak awal untuk mengantisipasi dan mengendalikan OPT secara intensif terpadu.

6. Pembersihan sekitar areal pertanaman dari rerumputan liar, gulma atau tanaman lainya yang bisa menjadi inang / tempat hidup sementara bagi hama / penyakit.

7. Menggunakan pestisida dengan bahan perekat dan perata untuk mengendalikan hama/penyakit. Penggunaan bahan perekat dan perata seperti Agristic yang dicampurkan dengan pestisida menyebabkan penggunaan pestisida lebih efisien karena tidak mudah tercuci oleh air hujan dengan intensitas tinggi. Untuk penggunaan bahan perekat perata lainnya dapat dipakai dengan rekomendasi petugas teknis atau penyuluh pertanian setempat.

8. Menggunakan naungan plastik/paranet sebagai pelindung tanaman. Untuk mengurangi terpaan air hujan dengan intensitas tinggi, anda bisa menggunakan naungan plastik atau paranet. Penggunaan naungan plastik bisa berbentuk rumah plastik sederhana (green house) maupun berbentuk naungan memanjang sepanjang bedengan tanaman. Dalam hal penggunaan naungan plastik/paranet ini tentu saja sebelumnya anda harus memperhitungkan terlebih dahulu untung rugi dari segi pembiayaanya.

(Ir. Ernofia, Penyuluh Pertanian Madya pada Sekretariat Bakorluh Prov. Jambi)